19 Bab 19 : Menjadi Koki Pribadi (1/2)
”Kinar,” Daniel menatap lekat Kinar.
”Aku mau ngomong sesuatu.” Daniel berkata dengan serius.
”Apa itu?” Kinar bertanya dengan sedikit tertarik.
Daniel menarik nafas dalam-dalam, kemudian menatap Kinar dengan penuh tekad.
”Maukah kau merasakan masakanku selama sepekan?”
Ketika pertanyaan Daniel selesai, Kinar merasakan seperti jatuh dari langit.
”Bego!” Kinar berteriak pada Daniel.
Daniel tertawa dan bertanya sembari menggoda Kinar, ”Hei, di bagian mana aku begonya? Ini aku bertanya serius. Aku jadi koki pribadimu selama sepekan kedepan. Aku yang akan memasakkanmu makanan, mulai dari sarapan, makan siang dan makan malam selama sepekan. Mau atau nggak?”
Kinar memukul Daniel dengan tinju kecilnya. Wajahnya memerah, ”Bego! Daniel bego!”
Daniel mengangguk, ia berkata, ”Baiklah, kamu setuju. Aku akan mulai masak saat pulang sekolah nanti, mau mampir ke rumah?”
”Kapan aku menyetujuinya!?” Kinar berteriak dengan wajah sedikit mengeluh.
”Oke, nanti pulangnya ikut aku ke rumah. Tapi, sebelum itu, kamu ikut aku ke pasar, mau?”
”Hei! Kamu memutuskannya sendiri! Kapan aku menyetujuinya?” Kinar tak tahan lagi untuk meninju-ninju tubuh Daniel.
”Oke-oke. Jadi, kamu mau atau nggak?” Daniel bertanya dengan nada serius.
Mendengar ini, Kinar merasa kalau dia tak menjawab, maka kesempatan ini akan hilang.
Kinar mengangguk dan bersuara lirih dengan wajah merona merah, ”Hm.”
Daniel melihat ini tertawa terbahak-bahak. Ketua osis yang dikenal dingin kini malu-malu di depannya. Daniel mulai mempertanyakan apakah ia mempunyai pesona semacam ini.
Keduanya makan dengan cepat, kemudian kembali ke kelas masing-masing.
Alasan mengapa Daniel memasakkan Kinar adalah karena tugas dari sistem.
Apa tugas dari sistem?
”Tugas : Memasakkan Kinar. Memasakkan makanan yang bisa membuat Kinar berkata 'enak' selama seminggu, yaitu untuk sarapan, makan siang dan makan malam.
Syarat : Kinar mengatakan 'enak' di setiap sesi makan. (0/21)
Hadiah : Exp 50%, Undian 1x, Jam Tangan Pintar.
Hukuman : Menghapus Red Queen dan semua produk yang diciptakan Red Queen, Mengambil Laptop NeptuX, Menghapus keberadaan System Technology and Superpower dan meledakkan otak host.
Waktu tersisa : 7 hari, 11 jam, 39 menit.”
Daniel tahu konsekuensi ini, ia tak masalah bagaimana dihapusnya Red Queen, laptop, ataupun hilangnya Sky, yang ia paling takutkan adalah otaknnya meledak dan kehidupannya akan berakhir. Bahkan jika semuanya hilang selain kehidupannya, Daniel akan berusaha memulainya dari bawah lagi.
Daniel memasuki kelas, tapi saat memasuki kelas, ia merasakan ditatap dengan tajam.
Orang yang menatapnya dengan tajam adalah Bella, Silvia, dan Yudhistira.
Tentu saja murid lain menatapnya namun tak setajam tatapan mereka bertiga, malah ada yang menatap Daniel dengan tatapan mengejek. Orang yang menatap seperti itu adalah Max dan Regi, kedua sahabatnya ini.
”Kalian mengejekku!” Daniel langsung mendatangi mereka berdua.
”Nggak kok, Daniel. Kita mah nggak ngejek, cuma penasaran.” Regi menjawab.
Daniel memutar matanya, ia tahu kalau keduanya ini pasti akan mengejeknya. Ia kemudiam bertanya, ”Apa yang bikin kalian penasaran?”
Max bertanya, ”Apa yang kau lakukan dengan Kinar?”
Daniel menjawab singkat, ”Hanya makan.”
Regi kemudian lanjut bertanya, ”Apa yang kalian makan?”
Max menatap Regi dengan cemoohan, ia berkata, ”Kau tidak tau apa yang mereka makan?”
”Memangnya apa?” tanya Regi.
Max mengambil nafas dalam-dalam kemudian berdaham, kemudian, ”Sayur koool, Sayur koool, Daniel sama Kinar makan nasi dengan sayur kol.”
Max mengatakannya dengan nada lagu.
Sontak saja ketiganya tertawa keras. Belum lagi nyanyian Max suaranya sedikit keras, hingga murid yang lain pun tertawa.
”Ada-ada aja nih anak,” Daniel mengejek Max sambil tertawa.
Tak lama kemudian bel berbunyi. Namun, mereka masih tertawa. Tetapi, setelah Pak Barudi masuk, kelas senyap seketika.
Entah takdir apa, seorang siswa yang melewati kelas 11-B TKJ bernyanyi dengan keras, ”Sayur koool, sayur koool, makan daging sehat dengan sayur kol.”
Semua murid dikelas 11-B TKJ tertawa lagi.
Mendengar tertawaan murid kelas 11-B TKJ, siswa itu cepat-cepat pergi.
Sementara itu pak Barudi yang hanya diam saja, kemudian berdaham dan seruluh kelas menjadi sunyi.