38 Bab 38 : Saatnya Membalas (1/2)
”Kakak, server perusahaan Sky Technology diretas.”
Ketika mendengar berita itu, Daniel terkejut.
”Diserang?” gumam Daniel.
Seisi mobil yang mendengar gumaman Daniel menjadi bingung.
Raka, yang berada di sebelah Daniel bertanya, ”Kak, apanya yang diserang?”
Daniel tersadar, ia kemudian melambaikan tangannya dan menjawab, ”Bukan apa-apa.”
Mendapat jawaban dari Daniel, mereka kembali pada urusan masing-masing.
Daniel memainkan ponselnya. Ia mengirimkan pesan pada Red Queen.
”Kapan server kita diserang?” tanya Daniel.
Hanya berselang sedetik, Red Queen menjawab, ”Baru saja, Kak.”
”Red kecil, lindungi semua data dari basis data, kemudian enkripsi semuanya. Setelah itu, buatlah file palsu seperti file Teteh. Lalu, masukkan kode pelacak dalam file tersebut dan biarkan mereka mengambil file tersebut.” ketik Daniel kemudian mengirimkannya.
Daniel sebenarnya sudah tahu bahwa perilisan asisten pintar tak akan berjalan mulus dan ia menduga bahwa akan ada yang menyerang server perusahaan Sky Technology. Tetapi, ia tak menyangka kalau penyerangan akan terjadi sehari setelah perilisan asisten pintar Teteh.
Tujuan pihak lain pastilah kode sumber dari asisten pintar Teteh.
Jika pihak lain mendapatkan kode sumber asisten pintar Teteh, pastinya akan mendapatkan uang yang tak terhitung jumlahnya. Jangan hanya membayangkan tentang penggunaan pada ponsel saja, tapi pikirkan jika kode sumbernya dikembangkan lebih lanjut lagi hingga menjadi kecerdasan buatan yang maju. Itu akan menjadi sebuah terobosan di berbagai bidang.
Dan juga, jika pihak lain mempunyai superkomputer, maka tak terbayangkan bagaimana terobosan yang diperoleh oleh pihak lain tersebut.
Jadi, tak heran kalau pihak lain tergoda dengan kode sumber asisten pinter Teteh.
Kenapa Daniel memberikan data palsu?
Karena, jika para peretas pulang dengan tangan kosong, perusahaan Sky Technology akan terus dibombardir sampai mendapatkan apa yang mereka inginkan.
Jika terus dibombardir, maka perusahaan merugi jika pekerjaan terganggu.
Red Queen mengangguk, ”Baik, Kak.”
Daniel tersenyum dingin, ia kemudian mengetik, ”Buatlah mereka sibuk dulu selama beberapa jam. Setelah itu, aku sendiri yang akan mengajari mereka jika berani macam-macam denganku.”
Untuk sesaat suasana di dalam mobil menjadi dingin.
Kecuali Nayla, semua orang dalam mobil menjadi pucat.
”Ada apa suasana tadi itu? Serem!” kata Kinar dengan suara bergetar.
”A-apa yang sedang terjadi?” Bella bertanya dengan sedikit ketakutan.
Sedangkan untuk Silvia, Rika dan Raka, mereka hanya terdiam. Tak mampu mengeluarkan suara untuk sementara.
”Tidak apa-apa. Mungkin AC yang kuatur terlalu dingin. Maaf ya.”
Agar tidak membuat mereka khawatir, Nayla membuat alasan yang sedikit masuk akal.
Nayla lalu tersenyum pada Daniel yang terlihat oleh Daniel di kaca spion.
Melihat senyum Nayla, Daniel tersenyum meminta maaf.
Beberapa menit kemudian, ponsel Daniel berdering.
Daniel melihat ponselnya dan menemukan nama Lia Siyu yang memanggilnya. Ia menerima panggilan tersebut.
”Halo, Lia Jie.”
”Halo, Daniel. Gawat, gawat, server perusahaan diserang. Tim teknisi tak bisa menahan serangan itu.” Lia Siyu menjawab dengab nada sedikit panik.
”Lia Jie, tenangkan dirimu. Biarkan mereka terus bekerja seperti biasanya. Aku akan membantu nanti setelah pulang ke rumah.”
”Tapi Daniel...”
”Lia Jie, percayakan itu padaku.”
”Baiklah kalau kamu berkata seperti itu.”
”Lia Jie, nanti aku akan menelponmu lagi. Sampai jumpa.”
”Sampai jumpa.”
Daniel memutuskan panggilan.
Setelah memutuskan panggilan, Daniel ditatap dengan mata penuh pertanyaan.
Melihat ini, Daniel hanya bisa tersenyum.
”Daniel, siapa yang menelponmu?” tanya Silvia.
”Lia Siyu, dia menelponku karena sesuatu. Hanya masalah kecil,” jawab Daniel santai.