51 Bab 51 : Profesor Sesua-tuya dan Eksperimen (1/2)

Bimo terbangun dari koma-nya setelah menelan obat yang diberikan oleh sosok misterius tersebut.

Ia membuka matanya, melihat-lihat sekitarnya dan terkejut dengan ruangan serba putih tersebut. Sempat tersirat di dalam kepalanya kalau ini adalah alam setelah kematian. Namun, setelah mengingat-ingat sesaat sebelum ia pingsan, ia ingat bahwa ia memakan sebuah pil dan dibawa oleh sesosok orang misterius.

Kemudian, ia memeriksa tubuh-tubuhnya karena mengingat hal sebelum ia pingsan. Ia menggerakkan tangannya dan ia tak merasakan rasa sakit apapun. Setelah itu, ia melihat-lihat kondisi bagian tubuh yang lain dan semuanya sudah sembuh kembali ke sedia kala.

Ia bingung dengan pil yang ia makan. Pil apa sebenarnya yang kumakan ini? Bimo tercengang dengan efek pil yang ia makan.

Sambil terus berpikir tentang pil yang ia makan, seseorang membuka pintu.

”Oh, ternyata kau sudah bangun. Bagaimana kondisi tubuhmu?” tanya seorang pria bertubuh langsing dengan jas putihnya.

”Apakah kau yang membantuku sebelumnya? Jika itu benar-benar kamu, aku mengucapkan terima kasih banyak padamu.”

Kemudian, Bimo menundukan kepalanya manandakan bahwa ia tulus berterima kasih pada pria yang ada di depannya.

Ada kejutan di mata pria langsing tersebut, ia berkata dengan sinis, ”Oh, aku tak menyangka bahwa seorang mantan tentara bayaran akan berterima kasih seperti ini. Sepertinya ada sesuatu hal yang membuatmu berubah menjadi lebih lembut. Yah, aku tak memperdulikan itu. Karena kamu sudah sadar seperti biasanya, apa hal yang ingin kau lakukan?”

”Yang ingin kulakukan? Membalas dendam pada keluarga Wirawan!” jawab Bimo dengan mata merah yang menyeramkan.

Melihat ini, alih-alih ketakutan, pria langsing itu malah tersenyum. Ia berkata, ”Karena kamu sangat bersemangat, ikutlah denganku. Seperti yang kubilang, jika kau ingin balas dendam, kau harus mengikuti apa yang kuperintahkan. Tak peduli apapun itu.”

Bimo menjawab tanpa berpikir panjang, ”Iya, aku setuju.”

”Baiklah, ikuti aku.”

Pria langsing itu memimpin Bimo keluar ruangan. Bimo megikutinya di belakang.

Setelah berjalan kaki agak lama, kedua orang tersebut sampai pada satu ruangan yang pintunya berlapis logam yang terlihat sangat kuat.

Pria langsing tersebut meletakan kartunya pada sensor di samping pintu. Setelah beberapa saat kemudian, pintu yang tebal terbuka.

”Ayo masuk,” ajak pria langsing tersebut.

Bimo tak menjawab dan mengikutinya.

Setelah masuk beberapa meter, ia disambut dengan berbagai tabung transparan yang berisi organ manusia dan juga ada beberapa yang berisi tubuh manusia utuh dari tubuh bayi hingga manusia dewasa. Hal ini membuat Bimo terkejut dan juga sedikit merinding.

Apakah organku akan diambil?

Pertanyaan ini menggema di pikiran Bimo.

Bimo terus memperhatikan sekeliling dan melihat banyak orang berpakaian serba putih.

Pria langsing itu meninggalkan Bimo yang sedang meihat-lihat. Ia menghampiri seorang pria tua mungil berwajah licik.

Setelah beberapa menit mereka berbincang-bincang, Pria langsing tersebut memanggil Bimo, ”Bimo, kemarilah!”

Mendengar seseorang memanggilnya, Bimo melihat ke arah sumber suara dan langsung menghampiri tanpa menjawab panggilan pria tersebut.

Pria langsing itu melihat Bimo, kemudian ia berkata, ”Ikutilah pria tua bangsat ini. Jika kamu mengikutinya, kamu akan mendapatkan kekuatan yang luar biasa. Tentu saja kamu harus membayar banyak harga untuk mendapatkan kekuatan tersebut.”

Dengan wajah penuh tekad, Bimo berkata, ”Baik, aku akan menyanggupi apa yang diinginkan oleh pria tua bangsat ini.”

Mendengar panggilan dari kedua orang tersebut, pria tua licik protes.

”Hei, beraninya kalian memanggilku bangsat, dasar bajingan,” ucap pria tua licik dengan kesal.

”Panggil aku profesor super duper cetar membahana ulalala khatulistiwa sesuatu syantik, atau disingkat mejandi Profesor Sesua-tuya,” lanjutnya sambil tersenyum bangga.

Pria langsing itu memutar matanya. Ia berkata, ”Lihat bagaimana pria tua bangsat ini memilih nama. Karena itulah aku memanggilnya pria tua bangsat yang bajingan. Sebaiknya kau memanggilnya profesor Sesua-tuya.”

”Dasar laki-laki banci!” kata pria membalas dengan kesal.

”Lihat? Penamaannya buruk sekali. Baiklah, bersenang-senanglah dengan pria tua bangsat yang bajingan ini.” Pria langsing itu tertawa sambil meninggalkan ruanga itu.

Profesor Seasu-tuya mendengkus napas dingin. Ia kemudian menatap Bimo yang tersenyum canggung dari tadi. Ia berkata, ”Nak, kalau kau berani memanggilku pria tua bangsat lagi, aku akan mengambil matamu, gigimu, bahkan 'bolamu' juga akan kuambil.”

”Ahshiap, profesor Sesua-tuya!” kata Bimo spontan.

”Ahshiap? Kata-kata yang bagus,” profesor Sesua-tuya berkata dengan mata berbinar. Ia kemudian tertawa dan berkata, ”nak, kau benar-benar jenius sastra. Ahshiap! Aku akan memberikanmu bonus nantinya!”

Bimo tersenyum canggung melihat perilaku profesor Sesua-tuya ini. Ia hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil mengikuti profesor Sesua-tuya.

....

Profesor Sesua-tuya membawa Bimo masuk ke ruangan yang ada di dalam ruangan tadi. Di ruangan ini cukup kecil, namun banyak barang yang terlihat canggih bagi Bimo.