61 Bab 60 : Menjenguk Daniel (1/2)

Hari ini, Bella dengan semangat berangkat ke sekolah. Alasannya adalah dia ingin mengobrol lagi seperti biasa dengan Daniel tanpa ketakutan sedikitpun. Kemarin dia meninggalkan Daniel tanpa sepatah kata karena dia benar-benar belum siap untuk meminta maaf pada Daniel.

Sesampainya dia di sekolah, dia berjalan cepat menuju kelasnya sambil berharap ada Daniel di sana. Tetapi, begitu dia sampai, Daniel tidak ada di sana. Semangat yang membara, perlahan mulai menurun.

Ia kemudian duduk di kursinya dan menunggu kedatangan Daniel. Ia sesekali menatap pintu kelas, lalu menatap kursi Daniel.

Beberapa menit kemudian, Max dan Regi masuk ke kelas. Bella, yang daritadi memperhatikan pintu masuk, matanya memancarkan secercah harapan. Tetapi, setelah Max dan Regi memasuki kelas, dia tak melihat bayangan Daniel sedikitpun. Semangatnya sekali lagi menurun. Ia menundukkan kepalanya tanpa ada semangat.

Max dan Regi memperhatikan Bella setelah duduk di kursi mereka. Keduanya bingung dengan keadaan Bella seperti ini, tapi mereka tak terlalu ingin ikut campur karena keduana berpikir Bella sedang memiliki masalah yang menyangkut privasinya.

Sesaat sebelum bel masuk berbunyi, seorang siswa masuk ke kelas dengan napas terengah-engah. Dengan sisa kekuatannya, dia berkata, ”Selamat pagi.”

Mata Bella berbinar. Suara ini agak familiar baginya, dia pun segera mengangkat kepalanya, melihat-lihat ke arah sumber suara.

Dengan penuh semangat dia memanggil siswa itu, ”Da....”

Namun, suaranya berhenti di situ. Orang yang datang bukanlah Daniel, melainkan siswa lain. Hal ini menyebabkan semangat Bella sangat menurun.

Suara Bella mendapatkan perhatian seluruh siswa, tapi ia tak memperhatikan ini karena fokusnya tak lagi di kelas, melainkan di dalam pikirannya ketika dia mengingat sikapnya pada Daniel setelah kasus penculikan beberapa pekan yang lalu.

”Apakah Bella baik-baik saja?” gumam Silvia sambil memperhatikan Bella yang menundukkan kepalanya.

Tak lama kemudian, guru memasuki kelas. Gita, ketua kelas baru, memimpin teman-temannya untuk memberi salam kepada guru.

Setelah menjawab salah dari murid di kelas, guru tersebut memberikan sebuah pengumuman.

”Murid-murid, teman kalian, Daniel, tidak bisa menghadiri kelas hari ini karena kemarin dia diserang oleh orang tak dikenal setelah pulang sekolah. Saat ini Daniel dirawat di rumah oleh adiknya,” kata guru. Setelah jeda beberapa saat, dia melanjutkan, ”Kalian harus hati-hati saat pulang sekolah nanti. Lebih baik kalian pulang bersama-sama agar tidak terjadi seperti penyerangan terhadap Daniel.”

Setelah guru mengumumkan itu, seluruh murid terkejut mendengarnya. Kemudian, diskusi antar murid pun dimulai.

”Daniel diserang? Kasihan dia. Dahulu dia sering dibully Yudhistira, sekarang dia masih saja diserang oleh orang misterius,” kata murid A.

”Iya, kasihan banget dia,” jawab murid B.

”Eh, kalian tau nggak? Beberapa waktu lalu, ada murid SMK juga yang diserang oleh orang misterius saat lagi di taman hiburan. Apakah Daniel diserang oleh seseorang dari organisasi mereka?” kata murid C. Teorinya membuat diskusi semakin panjang.

Bella yang mendengar ini merasakan rasa bersalah. ”Apakah orang yang menyerang Daniel adalah orang yang mencoba menculikku waktu itu?” begitu pikirnya.

Bella terus memikirkan itu sampai-sampai membuatnya tak fokus selama oelajaran berlangsung.

Kemudian, bel istirahat berbunyi.

Ketika dia sedang berpikir, Max dan Regi menghampirinya. Max lalu bertanya padanya, ”Hai Bella. Kamu mau nggak ikut kami jenguk Daniel setelah pulang sekolah?”

Bella terkejut mendapat sapaan dari Max. Ia kemudian membalas sapaannya dengan anggukan. Namun, setelah mendengar pertanyaan Max, Bella jadi sedikit ragu-ragu. Ia menundukan kepalanya dan bergumam, ”Aku....”

Awalnya ia juga berencana untuk menjenguk Daniel. Tapi, setelah dia teringat dengan sikapnya kepada Daniel, dia ragu-ragu untuk ikut. Selain itu, serangan pada Daniel juga kemungkinan besar dilakukan oleh organisasi yang menculiknya. Jika bukan karena Daniel melindunginya, Daniel mungkin tidak akan diserang oleh orang tak dikenal ini.

Rasa bersalah kepada Daniel semakin menghantuinya.

”Dia yang menolongku sampai mempertaruhkan nyawanya, tapi aku membalasnya seperti ini. Karenaku, dia menjadi terluka sekali lagi, dan aku....”

Itulah isi pikiran Bella saat ini.

Setelah hening beberapa detik, dia menundukkan kepalanya. Dia menjawab, ”Maaf, aku tidak bisa.”

Jawaban Bella membuat keduanya terkejut.

”Baiklah, tidak apa-apa,” ucap Max dengan nada santai. ”Aku tak tahu apa yang terjadi antara kamu dan Daniel, tapi dia mengkhawatirkanmu. Kemarin saja, dia sangat khawatir kepadamu karena kamu tiba-tiba saja pergi tanpa berkata apapun padanya. Setelah itu, dia pergi dengan terburu-buru,” lanjutanya.

”Aku harap kamu berbaikan lagi dengan Daniel. Aku tak ingin dia bersedih dan khawatir tak jelas seperti kemarin,” katanya dengan nada dan wajah serius. Kemudian dia berbalik membelakangi Bella.

Regi tersenyum. Setelah beberapa saat, dia memukul punggung Max dengan sedikit keras dan berkata, ”Berhentilah berlagak sok keren di depan cewek cantik. Bella tak akan jatuh cinta denganmu meskipun kau sok keren seperti itu!” dia tertawa setelah mengatakan itu.

Sedangkan Max, kekesalannya terpicu. ”Setidaknya aku keren, tidak seperti kamu yang tidak keren! Meskipun Bella sangatlah mustahil untuk jatuh cinta kepadaku, setidaknya banyak cewek lain yang akan jatuh cinta padaku!” ucapnya dengan wajah sombong dan penuh kebanggaan.

”Hah?! Keren dari Hongkong! Aku lebih keren darimu!” kata Regi membantah ucapan Max.

Max tertawa. Dia membalas, ”Haha, Hongkong lebih keren! Daripada kamu, keren dari cikampek!”

”Kamu salah, Indonesia lebih keren. Karena itu, cintailah ploduk-ploduk Indonesia!” ucap Regi dengan nada meniru suara bintang iklan dari iklan Mba'spion. Keduanya kemudian saling menertawakan satu sama lain.

Di sisi lain, Bella dari tadi menundukkan kepalanya. Yang dikatakan oleh Max semakin membuatnya semakin merasa bersalah. Hatinya seperti diserang oleh sebuah panah tajam setelah mendengar Max.

Menggigit bibirnya, dia berkata, ”Aku...”

Tapi, belum selesai dia mengatakan kalimatnya, itu dipotong oleh kalimat Regi. ”Max, Bella bilang dia tak bisa ikut. Dia mungkin punya kesibukan, jadi jangan memaksanya. Bagaimana kalau kita mengajak Silvia dan Kinar? Mereka berdua juga akrab dengan Niel.”

Max menganggukkan kepalanya, ”Ah, baiklah.”

Keduanya kemudian pergi menghampiri Silvia dan mengajaknya menjengguk Daniel setelah pulang sekplah. Silvia setuju dengan keduanya.

”.... menitipkan salam untuk Daniel,” gumamnya dengan lemah. Di sudut matany, air mata mengalir.