68 Bab 67 : Koma (1/2)

Catatan : Latar novel ini merupakan latar Indonesia di Bumi alternatif. Ingat, ada banyak perbedaan dengan kenyataan, meski ada banyak kesamaan pula.

Selamat menikmati~

----------------------—--------------------

Bejo adalah orang kepercayaan Matih yang sering memberikan informasi pada Matih. Setelah memberikan perintah untuk menyiksa psikologis Lia Siyu dan Ritha kepada dua anggota gangster, dia pergi ke ruangannya untuk beristirahat sambil kembali memeriksa kesepakatan dengan klien yang menginginkan kode inti. Dia memeriksa semua isi kesepakatan untuk mendapatkan keuntungan tambahan. Tak butuh waktu lama baginya untuk mendapatkan celah untuk mendapatkan keuntungan, karena celah itu adalah pihak mereka bisa dengan bebas bisa menyalin kode inti aplikasi itu dan di jual ke berbagai perusahaan lainnya dengan harga yang mahal. Dia tertawa terbahak-bahak memikirkan itu, tapi segera terganggu oleh suara ledakan yang membuat ruangannya bergetar.

Khawatir dengan rekan-rekannya, dia buru-buru keluar dari ruangannya dengan berbekal pisau untuk pertahanan diri, dia menuju ruang depan markas. Namun ketika dia sampai di sana, betapa terkejutnya dia melihat banyak teman-temannya terbaring di lantai karena telah tertimbun reruntuhan bangunan.

Dia sangat ingin menolong mereka, tapi reruntuhan berat itu telah menimbun beberapa rekannya. Ketika dia melihat sekeliling mencari seseorang yang bisa diselamatkan, dia menemukan seorang pemuda dengan seragam sekolah yang berlumuran darah. Awalnya dia berpikir untuk menyelamatkannya, tapi setelah beberapa saat, dia maupun Matih tak pernah mengizinkan seorang siswa SMK untuk masuk dalam gangster mereka. Hanya satu kemungkinan di dalam pikirannya, yaitu bocah ini adalah penyebab ledakan ini. Memikirkan hak ini, gejolak amarah memenuhi isi hatinya.

Dia melihat bocah itu memasuki area di mana Lia Siyu dan Ritha disandera. Ia diam-diam mengikuti bocah ini untuk mengetahui tujuan sebenarnya.

Setelah mengikuti bocah ini berkeliling, bocah tersebut berhenti di ruangan Lia Siyu dan Ritha disandera. Bocah itu memukul kunci pintu ruangan sandera dengan pedang yang dia bawa, lalu membuka pintu dan berbicara sesuatu pada kedua sandera. Terbayang-bayang dengan kematian rekannya, Bejo memutuskan untuk pelan-pelan mendekati ruangan itu dan menunggu kesempatan untuk membunuh ketiganya.

Saat ini uang bukan lagi prioritas dari Bejo, tapi membalaskan dendam teman-temannya!

Bejo mengintip ke dalam dan menemukan bocah ini masih berbicara kepada kedua sandera tanpa kewaspadaan.

”Inilah saatnya!” pikir Bejo.

Memegang pisau di tangannya, dia kemudian bergerak dengan cepat. Jarak antara pintu dan bocah itu berdiri tidak jauh, jadi Bejo dengan sangat cepat sampai di punggung bocah itu hingga bocah tersebut tak bisa bereaksi sedikitpun. Dia memegang leher bocah itu, bersamaan dengan itu, dia menikamkan pisau ke pungung bocah itu. Beberapa saat kemudian, tubuh bocah itu lemas dan Bejo mendorongnya ke depan.

Lia Siyu terkejut, melihat Daniel ditikam, dia langsung berteriak histeris.

”Tidak!”

Kakinya kemudian melunak, dia berlutut di lantai sambil menangis. Di dalam hatinya, dia terus menyalahkan dirinya sendiri.

Ritha tidak lebih baik dari Lia Siyu. Dia yang tadinya berekspresi gembira, seketika berubah setelah dia mendengar jeritan Lia Siyu dan membalikkan badannya. Saat itu, dia melihat seorang pria kurus dengan wajah tersenyum, namun bukan senyum hangat, melainkan senyum kebahagiaan karena berhasil membunuh seseorang. Hasilnya, dia juga berteriak histeris melihat ini.

Namun, pada detik berikutnya, tiba-tiba saja sebuah pedang dengan sangat cepat menebas kepala Bejo. sedetik kemudian, pedang yang digunakan untuk menebas Bejo menghilang dan Bejo pun terjatuh ke lantai. Tak berselang lama, tubuh Daniel pun ikut terjatuh karena kehabisan kekuatan.

Aksi ini hanya terjadi dalam waktu tiga detik. Lia Siyu dan Ritha tak memperhatikan aksi Daniel menebas kepala Bejo

Lia Siyu terus menangis, setelah berangsur-angsur tenang, dia menyadari sebuah keabnormalan situasu saat ini. Dia memberanikan dirinya untuk membuka matanya. Begitu matanya terbuka, dia sangat terkejut melihat tubuh Bejo tanpa kepala. Kemudian dia melihat Daniel terbaring tak jauh dari Bejo, dia buru-buru mendekati dan langsung memeriksa kondisinya.

Lia Siyu memeriksa nadi dan jantung Daniel. Dia menemukan bahwa nadi dan jantung masih berdetak, tapi semakin melemah tiap menitnya.

”Ritha, Ritha! Berhentilah ketakutan, kita selamat. Ayo bantu aku membawa Daniel ke rumah sakit,” pinta Lia Siyu buru-buru takut akan jantung Daniel berhenti berdetak jika dia terlambat.

Ritha terkejut mendengar Lia Siyu memanggilnya. Medengar permintaan Lia Siyu, dia mengangguk keras tanpa bersuara.

Keduanya membawa Daniel dalam rangkulan mereka, lalu berjalan keluar ruangan.

....

IndoNews : [Terjadi ledakan di Banukarta Barat!]

Berita6 : [Meledak! Sinyal elektronik di kota Banukarta Barat tak berfungsi!]

TerbaruNews : [Terjadi ledakan di Banukarta! Jumlah korban belum diketahui!]

Berbagai portal berita online mengabarkan kondisi saat ini di kota Banukarta. Warga yang ada di dekat lokasi ledakan juga melihat lokasi ledakan dengan penasaran seakan-akan sedang melihat sebuah pertunjukan.

Polisi yang telah datang menertibkan warga sekitar. Kemudian, Antrakhu menyisir area ledakan untuk mencari petunjuk sumber ledakan. Antrakhu adalah singkatan dari Pasukan Tentara Khusus yang bertindak untuk kejadian khusus seperti penyanderaan, terorisme, kerusuhan, dan kejadian membahayakan lainnya.

Saat pasukan Antrakhu sedang menyisir area ledakan, mereka mendengar suara langkah dari dalam bangunan yang masih belum hancur. Dengan reflek mereka menodongkan senjata mereka ke arah sumber suara.

Sang kepala pasukan mengangkat tangannya untuk bersiaga. Ketika dia menjatuhkan tangannya, itu adalah sebuah tanda untuk melepaskan tembakan.

Wartawan dan warga sekitar merasa tegang mrlihat aksi mereka. Beberapa warga dengan panik meninggalkan tempat kejadian.

Kemudian, siluet tiga orang terlihat. Dua orang wanita sedang merangkul seorang pemuda yang telihat tak sadarkan.

”Berhenti! Katakan identitas kalian!” teriak kepala pasukan Antrakhu dengan nada galak.

”CEO Sky Technology, Lia Siyu. Yang lain adalah Asisten divisi Periklanan, Ritha. Pemuda ini adalah adik angkat saya, Siswa SMK Sinar Abadi,” jawab Lia Siyu dengan buru-buru.

Kepala pasukan Antrakhu tak menjawab. Dia memberikan sinyal untuk mengkonfirmasi identitas tiga orang ini. Tak lama kemudian, seorang prajurit datang mengkonfirmasi hal itu, dia mengatakan bahwa hal itu adalah benar. Kepala pasukan Antrakhu memberikan sinyal untuk menurunkan senjata mereka. Dia dan beberapa prajurit lain maju mendekati Lia Siyu dan keduanya.

Ketika kepala pasukan Antrakhu mendekat, dia melihat siswa di dalam rangkulan keduanya sedang terluka parah. ”Ambil tandu dan juga bawa seorang Dokter untuk memeriksa kondisinya!” perintah kepala pasukan Antrakhu terburu-buru.

Tak butuh waktu lama untuk Dokter dan tenaga medis untuk datang. Mereka membaringkan Daniel di tandu dan Dokter mulai memeriksanya.

Wajah Dokter pucat ketika dia memeriksa tubuh Daniel. ”Dia butuh perawatan segera! Detak jantungnya mulai melemah, dia juga kekurangan darah. Segera bawa dia ke mobin ambulan dan langsung berangkat ke rumah sakit!”

Para prajurit ragu untuk menjalankan perintah dari Dokter, tapi setelah mendapat sinyal dari kepala pasukan, mereka langsung melaksanakan tugas.

”Kalian berdua ikuti kami untuk menuliskan laporan keterangan kejadian ledakan ini,” ucap kepala pasukan Antrakhu. Keduanya mengikuti dengan patuh tanpa ada penolakan.

....

Rumah Sakit Umum Banukarta.

Seorang remaja perempuan buru-buru menuju ruangan IGD, namun dihentikan oleh perawat yang ada di sana.

”Aku ingin melihat keadaan kakakku! Kenapa kau malah menghentikanku?!” Rika berteriak dengan emosi.

”Dek, Kakakmu sedang ditangani. Bersabarlah,” jawab perawat itu dengan sabar menjelaskan.