Chapter 61 - Minggir Paman (1/2)

Berdasarkan kamera pengawas, para pengawal yang melihat dari monitor segera berkumpul secepat kilat tepat sebelum kedatangan pak Azwar dan Adith sehingga mereka hanya terdiam membatu tepat dihadapan Alisya.

Dengan tangan yang gemetar beberapa pengawal dengan cepat memberi Alisya serbet untuk mengeringkan rambut dan wajah Alisya yang basah namun dia hanya mengabaikan mereka semua.

”Hei apa yang kalian lakukan??? aku lagi jatuh disini,, kenapa kalian malah memperhatikan dia??” Jenni masih belum menyadari situasi dan membentak dengan meringis sakit.

”Alisya kamu baik-baik saja?” pak Azwar langsung bertanya dengan kaku. Ia takut kalau Alisya akan sangat marah.

”Paman,, perempuan jala** ini sudah mencelakaiku paman” Jenni dengan cepat merayu pak Azwar yang merupakan pamannya.

Alisya sontak menatap tajam ke arah Jenni memancarkan aura membunuh yang dahsyat yang membuat para pengawal memundurkan langkah mereka dan pak Azwar langsung berdiri membelakangi Jenni yang gemetar ketakutan saat dia dan Alisya beradu mata. Jenni bisa menyadari akan amarah yang sangat mendalam dimatanya yang mampu menghancurkan siapapun dihadapannya saat ini.

Semua orang yang melihat dari jauh hanya bisa melihat kalau Alisya menatap marah kepada Jenni tanpa mengetahui bahwa tatapan yang ditujukan adalah tatapan yang biasanya dikeluarkan oleh seorang pembunuh profesional.

Adith terdiam terpaku melihat kemarahan Alisya, berbeda dengan yang lainnya. Adith bisa merasakan besarnya tekanan yang diciptakan oleh Alisya. Aura yang dikeluarkannya bahkan cukup pekat untuk bisa menaklukkan seekor harimau hanya dengan tatapannya. Untuk beberapa alasan dia hanya berdiri dibelakang sambil terus memperhatikan.

Dalam keadaan takut, karena merasa dilindungi oleh pamannya ia jadi sedikit angkuh lagi untuk memfitnah ”Pa,, paman,,, perempuan itu tidak punya sopa...”

”Diam kau!!!! minta maaflah cepat!!” Pamanya dengan cepat menghentikan celotehan Jenni melihat amarah Alisya.

semua orang yang melihatnya dengan tatapan jijik membuatnya marah dan berkata dengan keras. ”Tidak!! aku tidak salah.. buat apa aku minta maaf kepada anak ingusan sepertinya???”

”Minggir paman!!!” Alisya membuat satu lagkah pasti yang dengan cepat dihentikan oleh ibu Yul. pak Azwar bergetar tetapi berusaha tetap tenang.

”Alisya, Ibu baik-baik saja, terlalu banyak orang yang melihat!” Ibu Yul berusaha menenangkan Alisya dengan mengusap lengannya lembut

”Tidak Ibu Yul, dia harus diberi pelajaran karena kesombongannya itu!” Alisya menggertakkan giginya untuk tetap berbicara dengan sopan kepada ibu Yul.

”Memberiku pelajaran??? memangnya kau siapa?” Jenni tidak tahan dengan tingkah Alisya yang merasa seolah-olah bisa melakukan apa saja kepadanya. Dia adalah manager perusahaan sekaligus keponakan dari sekretaris penting tangan kanan direktur sedang Alisya hanyalah seorang Cleaning service rendahan dimatanya.

”Bukankah sudah ku ingatkan kau untuk menghilangkan kesombonganmu itu!!! Segeralah minta maaflah sekarang juga sebelum terlambat!!!!” pak Azwar membentak sangat tajam.