Chapter 81 - Rezeki Nomplok (1/2)
Alisya mengepalkan tangannya dengan kuat membuat kukunya tertanam dan merobek kecil telapak tangannya mengeluarkan darah yang cukup kental.
”Apa yang akan kau lakukan sekarang?” Bisik Karin dengan wajah serius.
Alisya hanya terdiam tak tau apa yang harus ia katakan kepada Karin. Fikirannya kosong dan tak tau dari mana ia harus memikirkan tentang semua itu.
Alisya menarik nafas dalam. Karin tau betul apa yang Alisya risaukan, Alisya selama ini terus berusaha menyembunyikan keberadaan dirinya untuk melindungi dirinya dan juga orang disekitarnya dari Black Falcon. Dan sekarang tanpa disadarinya, dia telah membuka jembatan untuk dapat ditemukan dengan mudah. Beritanya mungkin sudah dihapus Adith tapi Alisya belum yakin apa tujuan Adith melakukan hal tersebut.
”Alisyaaaa....” teriak seseorang dari luar kelas yang mengarah ke jendela.
Mendengar suara itu beberapa dari mereka langsung menghambur melihat kejendala. suara heboh mereka memekakkan telinga Alisya yang dengan cepat ia memegang kedua telinganya karena merasa sakit.
Semua orang yang tadinya cuek begitu mendengar teriakan mereka dengan cepat mencari sumber suara diluar kelas dan serentak menuju ke jendela.
”Kamu baik-baik saja Alisya?” Karin menghampiri Alisya yang memegang telinganya.
”Kamu kenapa?” tanya yogi khawatir.
”Aku juga tak tau, entah sejak kapan aku merasakan sakit pada telingaku saat mendengar suara! Jelas Alisya meringis kesakitan dan menekan telinganya dengan kuat.
Wajah Karin seketika menggelap, ia takut kalau Karin akan mengalami trauma yang lebih besar lagi karena sebelumnya kondisi Alisya sudah membaik, dan jika Alisya mengalami hal yang lebih parah lagi maka akan berdampak buruk bagi nyawanya.
Rasa takut Alisya lah yang dapat membuat kondisinya semakin memburuk.
”Alisya,, itu bukannya Adith??” teriak Adora dengan mata membelalak ke arah jendela.
”Adith? Mau apa dia disini? Bukannya bel masuk sudah berbunyi?” Rinto bingung menghampiri jendela melihat ke arah yang ditunjukkan oleh Adora.
”Alisyaaaahhh.... ” teriak Adith sekali lagi dengan lebih keras menggunakan pengeras suara.
Mendengar suara Adith, Perlahan-lahan Alisya mengatur nafasnya dengan tenang dan rasa sakitnya semakin menghilang. Alisya merasa suara Adith Bagai senandung instrumen yang menetralisir dengungan sakit ditelinganya.
Semua siswa semakin heboh karena Adith berdiri dengan gagah menanti kedatangan Alisya.
Alisya yang belum terlihat dijendela membuatnya sekali lagi mengangkat pengeras suaranya untuk memanggil Alisya namun beberapa saat kemudian ia muncul dengan tatapan bingung.
Adith hanya terdiam menyaksikan wajah Alisya cukup lama membuat Alisya jengah tak mengerti apa maksud Adith memanggilnya.
”Apa sih???” teriak Alisya kesal.
”Aku merindukanmu,,, dan rasanya legah karena sudah melihat wajahmu!!!” teriaknya sambil berlari tak memperdulikan teriakan semua siswa yang mendengar kata-katanya.
Seluruh kelas mendadak heboh dengan sikap manis Adith. Baru kali ini mereka bisa melihat langsung ekspresi Adith yang tersenyum bahagian dan tulus. Senyum yang bukan untuk mereka namun mampu melelehkan hati mereka.
”Orang lain yang diberi vitamin, tapi aku gregetan dan panas dibuatnya!” seorang siswi dengan heboh menempel erat di jendela.