Chapter 101 - Gila!!! (1/2)

”Pagi Alisya...” Adora menyapa dengan suara lemah.

”Yo! Pagi Sya...” Yogi menyapa dengan gaya fungky ditengah desahan Emi dan Feby yang masuk melewati Yogi.

”Kenapa mereka?” Alisya bukannya menjawab sapaan malah bertanya kepada Karin yang hampir bersamaan masuk kelas dengan mereka.

”Selalu saja kau tidak pernah memiliki rasa khawatir, makanya kau tak tau apa yang sedang mereka rasakan!” ucap Karin sembari membanting dirinya keatas kursinya dengan desahan nafas yang cukup berat.

”Karin,,, aku serius! kalau aku tau aku nggak akan tanya!” Alisya menekan kalimatnya meminta jawaban dari Sahabatnya yang paling rese' itu.

”Ya ampun Sya,,, minggu depan tuh kita Ujian penaikan kelas! Itu artinya pertempuran sampai keringat darah dan mimisan harus dilakukan demi mendapatkan nilai yang bagus untuk bisa naik kelas, tau sendiri sekolah ini adalah sekolah no 1 di Indonesia yang sangat mengutamakan kecerdasan serta keterampilan yang harus dimiliki oleh tiap siswa!” Jelas Karin panjang lebar memegang pundak Alisya seolah sedang mengajari anak SD.

”Dan sekolah kita hanya melihat orang yang memiliki kualifikasi nilai yang baik. Bagi mereka yang tidak mencapainya akan di depak dari sekolah ini” Tambah Yogi menggeser tempat duduknya menghadap Alisya.

”Untuk itulah mereka sangat khawatir kalau mereka takkan bisa lolo seperti terakhir kali” lanjut Rinto memandang teman-teman sekelasnya yang menunjukkan ekspresi terbebani.

”Oh,,,,” seru Alisya cuek.

”Eh buset, segitu saja reaksi kamu? kejam amat! kamu yang cerdas mana paham sih?” keluh Karin kesal. Meski Karin tau bahwa ia bisa lolos dengan nilai yang baik, ia tetap saja takut kalau tidak bisa melakukannya dengan baik.

”Loh,,, bukannya kemarin kita sudah sepakat untuk kerja kelompok dan belajar bersama? kenapa masih khawatir?” Alisya memperbesar volume suaranya untuk menarik perhatian teman-temannya.

”Whatt!! kamu serius Sya???” Beni menerobos masuk dengan tatapan semangat.

”Beneran kamu mau bantu kita lagi?” teriak Adora menoleh dengan cepat hampir memelintir lehernya sendiri.

”Kamu nggak becanda kan Sya?” Feby dan Emi berdiri hampir bertabrakan.

”Kami juga bisa ikutan kan???” Gani dan Gina memimpin teman-temannya yang lain memohon ikut.

”Sebentar sebentar, jika hanya terdiri dari 5 orang aku mungkin bisa bantu. tapi kalau udah sampai sekelas yang ada malah tidak maksimal nantinya!” Alisya gugup melihat semua teman-temanya memohon ikut.

”Benar apa yang dikatakan Alisya, dia akan kesulitan jika harus membimbing kita semua untuk itu kita butuh tambahan orang!” Rinto tau betul akan kemampuan Alisya dalam membimbing seperti terakhir kali ia lakukan.

Alisya membimbing sekaligus belajar sehingga tidak akan mengganggu performa belajarnya namun tetap saja akan sulit baginya jika harus mengatasi puluhan orang dan itu akan membuat hasil yang tidak maksimal untuk tiap orangnya.