Chapter 118 - Jet Pribadi (1/2)

”Kamu baik-baik saja Alisya?” Akiko terlihat khawatir dengan Alisya yang sudah terduduk sambil memegang kepalanya.

”Akiko, tadi organisasi sudah membuatku sakit kepala, lalu kenapa sekarang pesawatku harus mengalami penundaan keberangkatan? apa aku berangkat di hari yang sial?” Alisya mendesah karena lelah menunggu selama 2 jam lebih di ruang tunggu.

”Jangan berbicara seperti itu, aku sudah menanyakan kepada pihak penerbangan dan mereka bilang semua penerbangan yang menuju ke Indonesia mengalami penundaan karena cuaca buruk!” Akiko mencoba menenangkan Alisya yang mulai kehilangan kesabaran.

”Huhhhh,, aku juga heran bagaimana mungkin aku tak melihat satu orangpun dari Indonesia! Aku tidak yakin jika bandara sebesar ini tidak memiliki seorangpun dari Indonesia yang memiliki tujuan yang sama denganku!” Alisya sudah memperhatikan keadaan bandara semenjak pertama kali ia duduk setelah membeli tiket penerbangan ke Indonesia.

”Mu mungkin mereka mengetahui cuaca buruk di Indonesia makanya mereka tidak melakukan penerbangan hari ini” Akiko terlihat sedikit gelagapan tapi Alisya tak menaruh curiga apapun padanya. Alisya memang akan ketinggalan banyak informasi karena dirinya yang tidak menggunakan handphone.

”Ah,,, sudahlah.. tak ada gunanya aku mengeluh!” Alisya memilih merebahkan diri pada kursi panjang menutup kepalanya dengan buku majalah yang di ambilnya saat melewati tumpukan majalah gratis yang biasa disediakan pihak bandara lalu melipat kedua tangannya.

”Aku akan membelikanmu air bagaimana?” tanya Akiko cepat sebelum Alisya jatuh tertidur.

”Oke, Tolong yah... aku butuh yang dingin untuk mendinginkan kepalaku! Kebisingan bandara sudah membuatku semakin tak karuan.” ucap Alisya sedikit membuka majalah yang menutupi wajahnya.

”Oke, tunggu disini yah...” Akiko langsung menghilang secepat kilat setelah memberikan senyum sumringah kepada Alisya.

Akiko yang tujuan awalnya ingin membeli minuman dingin langusng mengambil handphonenya lalu menelpon seseorang dengan ekspresi wajah yang sangat panik.

”Halo, kakek pertama! sepertinya Alisya sudah mulai kehilangan kesabaran, aku sudah mencegahnya berulang-ulang kali untuk membuatnya tidak berbicara dengan seorangpun dari pihal bandara. Tapi aku tidak yakin sampai kapan aku bisa menahannya kek!” Suara Akiko bergetar saat menelpon Kakek pertama yang sangat ditakutinya itu namun ia tak punya pilihan lain lagi.

”Akiko tenanglah, mereka sudah berada disana sekarang! Aku sudah menghubungkanmu dengan mereka. Biar mereka yang ambil alih setelah ini! Oh iya, Terimakasih banyak. Maaf sudah merepotkan dirimu!” ucap kakek Alisya sebelum mengakhiri pembicaraan mereka.

”Tidak, tidak , tidak kek! aku merasa sangat senang bisa membantu!” Akiko menunduk dengan sopan meski tak berada dihadapan kakek pertamanya.

”Baiklah, kalau begitu bersenang senanglah kalian!” tutup kakeknya yang membuat Akiko mengeryitkan kening tak paham apa maksud dari kalimatnya yang terakhir. Akiko hanya mendapat permintaan dari kakek pertama untuk menghentikan Alisya mendapatkan penerbangan sejak 2 jam yang lalu dan tak mengetahui akan apa sebenarnya yang sedang ia rencanakan.

Handphonenya tiba-tiba saja berbunyi saat ia masih terus memikirkan apa yang harus dia lakukan setelah ini dalam menghadapi Alisya. Alisya yang sudah mulai kehilangan kesabaran membuat Akiko jadi panik dan bingung. Ia tak ingin Alisya menganggapnya sebagai pembohong.