Chapter 155 - Kereta Bawah Tanah (1/2)

”Jadi kau juga disini? Aku pikir kamu akan menjemput Alisya dirumah sakit pagi ini” Adora menatap Karin dan Ryu secara bergantian. Adora mengira kalau keduanya mungkin akan bolos hari ini demi menjemput pulang Alisya.

”A chan tidak mengizinkan kami membolos hanya untuk menjemputnya maka dari itu dia mengambil jadwal keluar siang karena ada beberapa pemeriksaan yang harus dia jalani untuk memastikan kalau kondisinya baik-baik saja!” Akiko muncul disamping Karin dengan suasah payah untuk bisa berbicara kepada Adora dengan lebih leluasa.

”ohh.. seperti itttuh???” Adora semakin terdorong merapat karena semakin banyaknya orang yang masuk.

Hari itu karena adanya demo membuat beberapa jalur lalu lintas yang harus dilalui oleh mereka menuju ke sekolah mereka mengalami pengalihan dan juga penutupan jalan sehingga sebagian besar dari mereka terpaksa menggunakan kereta bawah tanah sebagai angkutan untuk bisa tiba ke sekolah tepat waktu dibanding mengambil jalan memutar yang cukup jauh.

Kereta bawah tanah seketika penuh oleh banyaknya siswa siswi dan berbagai sekolah dan juga para pekerja yang berlomba satu sama lainnya untuk bisa datang tepat waktu ketempat kerja masing-masing.

”Oh, kalian disini?? bagaimana mungkin kita bisa berkumpul digerbong yang sama hari ini?” Beni masuk bersama Rinto dan juga Yogi sembari menjaga Emi serta Feby agat tidak terhimpit oleh banyak orang.

”Aku seperti sedang dalam kondisi Dejavu!” Akiko berkata dengan susah payah karena keadaan semakin sempit.

”Bukankah harusnya kau sudah terbiasa? Dijepang seperti ini kan?” tanya Karin menarik lengan Akiko agar bisa mendekat kepada dirinya.

”Justru saat hari kerja, jepang lebih padat dibanding dengan saat ini.” Terang Ryu yang membalikkan badannya dan menyandarkan tangannya menghalangi kerumunan orang yang membuat Akiko dan Karin bisa berdiri lebih leluasa berkat Ryu.

Melihat perlakuan Ryu, Rinto merasakan panas yang cukup membara dihatinya. Hal yang sama yang sedang di alami oleh Karin dimana dia bahkan harus menahan nafas karena posisinya yang lebih dekat dengan Ryu dibanding Akiko.

”Ouchhh,, aku merasakan tingkat rasa iri sekaligus cemburu yang sangat tinggi menekan hati dan perasaanku melihat kau hanya melindungi mereka berdua saja Ryu!!!” Adora melepaskan tangannya memukul bahu Ryu karena kesal yang membuatnya langsung terpental karena dorongan beberapa orang.

Adora yang menutup mata dan melindungi kepalanya yang hampir terbentur tiang penyangga kereta tidak merasakan apapun melainkan pada bagian perutnya ada telapak tangan hangat yang sedang menopang tubuhnya dari belakang.

”Jangan melepaskan genggamanmu jika dalam keadaan seramai ini!” Zein tidak bermaksud untuk tidak sopan pada Adora, namun jika dia tidak memegang perutnya maka tentu saja Adora akan mengalami benturan yang tidak terelakkan yang dapat melukai dirinya sendiri.

”Oke,, sekarang kami berdua semakin panas!!! Kenapa pemandangan indah ini merusak moodku sih!” Emi mendengus kesal melihat tingkah mereka.

”hahahaha, Aku seperti sedang menonton drama Korea saat ini” Riyan tertawa melihat apa yang sedang terjadi.

”Apa yang kau lakukan???” Emi bertanya dengan malas saat melihat beni sekarang beralih mencoba melindungi dirinya.

”Aku hanya ingin melakukan tugasku sebagai seorang laki-laki!” terang Beni dengan tatapan bangga.