Chapter 183 - Flakka (1/2)
Setelah mendapatkan izin dari seluruh orang tua siswa, Adith dan Alisya beserta yang lainnya langsung dikumpulkan di ruang kepala sekolah. Pak Richard duduk dengan santai dikursi nya tanpa ada yang menemani karena ia ingin membahas beberapa hal penting yang ia rasa cukup dirinya saja yang menghadapi semua itu.
”Kalian susah tau apa tujuanku memanggil kalian semua kesini bukan??? Kita akan membahas semuanya begitu yang lain sudah tiba!” meski belum paham betul akan situasinya mereka mengangguk pelan mengiyakan apa yang dikatakan oleh pak Richard.
”Permisi” Ucap seseorang yang membuka pintu dan masuk setelah mendapatkan tanda dari pak Richard. Dibelakangnya terdapat 4 orang yang mengikuti langkahnya dengan mantap.
”Ouuhh,, mereka adalah 10 besar kalangan elite” bisik Karin ditelinga Alisya. Aura menekan mereka saat bertatapan dengan Alisya hanya di abaikannya dengan mudah. Karin yang sudah terbiasa dengan aura kuat 3 elite terataspun sudah tak bergeming lagi dengan kehadiran mereka.
”Kalian bisa melihat Aura dingin serta hujaman listrik dari mata mereka? entah kenapa mereka berdiri dihadapan Adith dan yang lainnya dengan sengaja mengibarkan bendera perang!” terang
Yogi yang sedang menatap 10 besar kalangan elite dengan 3 besar berada di jejeran Alisya dan Karin yang tak memancarkan aura apapun dan 3. lainnya bersinar sangat terang berhadapan dengan 5 lainnya yang memancarkan Aura menekan dengan sangat kuat.
”Kau benar, aku bahkan sampai tak merasakan keberadaan Alisya dan Karin disana! sangat luar biasa karena Alisya yang bahkan memiliki kemampuan melebihi Adith mampu menekan Auranya dengan sangat baik sampai ketahap minim begitu pula dengan Karin. 2 orang yang sangat berbahaya!” terang Rinto setengah berbisik menyaksikan mereka dengan tatapan kagum.
Beni yang sedari tadi diam dan tak paham apa yang dikatakan oleh Yogi dan Rinto mengenai Aura, melihat tatapan mereka yang tajam kepada Adith dan yang lainnya membuat Beni bisa melihat bagaimana energi panas membakar keluar dari tubuh keduanya.
”Saint Saiya!!!” Beni menyebutnya dengan penuh semangat.
”Plakkkkk... hentikan imajinasi bodohmu itu!!!” Rinto dan Yogi secara bersamaan memukul kepala Beni mulai kesal dengan tingkah Beni.
”Apa otaknya sudah bergeser jauh semenjak ia jatuh dari pohon tadi?” ucap Yogi kesal melihat kearah Beni yang berada diantara mereka berdua.
”Susstt.. diamlah!” Rinto menganggukkan kepalanya menunjuk kepada pak Richard yang akan berbicara.
”Karena kalian sudah lengkap mari kita mulai pembahasannya!” ucap Pak Richard begitu mereka sudah mengambil posisi masing-masing berhadapan satu sama lain.
”Maaf pak, tapi sebelum mulai sepertinya posisi mereka berdua dan yang lainnya itu tidaklah seharusnya diikutkan dalam penyelidikan ini. Mereka bahkan tidak memiliki kemampuan apapun untuk bisa ikut dalam misi ini” seorang siswa yang sedang berhadapan dengan Adith menunjuk ke arah Alisya dan Karin serta teman-temannya yang berada tak jauh dari mereka.
”Ya benar, aku tak sudi bekerja sama dengan kalangan biasa seperti mereka! untuk apa mereka di ikutkan dalam misi berbahaya seperti ini? mereka hanya akan menghambat kami saja!” Ucap siswa lain yang berhadapan dengan Karin dengan tatapan sinisnya.