Chapter 188 - Percayalah Padaku (1/2)

Tidak butuh waktu lama hingga mereka tiba di rumah sakit milik Karan, mendengar Ryu yang mengalami luka parah akibat tusukan pisau Karan dengan cepat meluncur ke bawah untuk secara langsung menjemput mereka.

Ryu langsung diturunkan dari mobil dan dengan cepat dibawa ke ruang IGD.

”Bagaimana keadaannya?” Karan bertanya sambil terus membawa Ryu dengan sangat cepat.

”Aku sudah menekan sirkulasi peredaran darahnya, tapi darah yang keluar dari tubuhnya cukup banyak. Aku sudah memberikan penanganan awal sebelumnya, tapi aku hanya punya kain kasa dan alkohol karena terburu-buru. Aku...” Karan seketika menghalangi Karin yang ingin masuk bersamanya melakukan operasi pada Ryu.

”Biarkan aku yang tangani, tenangkanlah dirimu disini. Jika kau masuk dalam keadaan kacau seperti ini, kau hanya akan mengacaukan semuanya. Percayalah padaku!!! okehhh...” Karan mengusap lembut pipi adiknya untuk membuatnya tenang.

Alisya langsung mendekap Karin yang hampir jatuh melemas karena tubuhnya bergetar penuh ketakutan. Karin yang sudah terbiasa menghadapi Alisya pada akhirnya tak mampu jika melihat orang lain mendapatkan hal yang sama. Karin masih belum berpengalaman menghadapi orang terdekatnya yang terluka sehingga ia masih dengan mudah terbawa perasaan.

”Kau masih sangat muda Karin, tentu saja melihat orang terdekatmu terluka di hadapanmu akan membuat mentalmu jatuh.” batin Alisya terus memeluk Karin yang bergetar ketakutan.

”Alisya,,, Bahkan kau yang sudah aku ketahui memiliki ion nano yang dapat membuat lukamu cepat sembuh sudah cukup membuatku bergetar ketakutan. Dan kali ini Ryu, aku...” Karin berkata lirih.

”Kau tau kenapa kau seperti itu?” tanya Alisya duduk dihadapan Karin yang melihat ke arah tangannya yang terluka.

”Hatimu belum cukup kuat!!! Aku tau kau memiliki mental sekuat baja, tapi hatimu masih sangat rapuh. Ini memang bagus, tapi akan sangat berbahaya jika kau dihadapkan oleh situasi yang kurang menguntungkan. Bukan berarti aku tak punya emosi, hanya saja hal yang lebih utama adalah bagaimana menyelamatkan Ryu. Meski dengan tubuh bergetar kau terus berusaha memberikan pertolongan pertama pada Ryu, aku cukup bangga dengan itu! Sangat bangga malah... Tapi Kar, aku tak ingin melihat kamu tertekan seperti ini. Jika kau bisa menghadapi dengan tenang, maka kau akan bisa menyelamatkan banyak nyawa tanpa terkecuali siapapun itu dan takkan kehilangan siapapun lagi.” kata-kata lembut Alisya perlahan menenangkan hati Karin, Ia sadar bahwa sikap kerapuhannya itu bisa saja membuat orang lain akan meregang nyawa terlebih karena ia punya kemampuan untuk menyelamatkan mereka.

”Terimakasih Sya, akan aku ingat kata-katamu! Kamu benar, aku memiliki lisensi seorang dokter dan jika aku menjadi seorang dokter resmi maka seharusnya aku memiliki mental dan perasaan lebih kuat lagi agar aku tak kehilangan siapapun dan bisa menyelamatkan siapapun.” Karin tersenyum lalu mencubit pipi Alisya. Karin bangga pada keteguhan Alisya, meski ia yang lebih takut akan kehilangan seseorang namun ia masih bisa bersikap tenang.

Alisya hanya tersenyum dalam pahit. Rasa marah dan emosi yang meluap-luap menekan dadanya dengan sangat kuat. Adith bisa mencium aroma Alisya yang tidak stabil saat itu. kemarahan dan kebencian berkobar dalam matanya yang redup. Untuk tidak membuat khawatir Karin, Alisya memusatkan seluruh aura kemarahannya keluar bersama hawa panas tubuhnya.

Karin yang tidak stabil itu, tidak bisa membaca aura Alisya yang ia tekan dengan sangat baik. Namun Alisya tak bisa membohongi Adith karena Indra penciumannya yang sangat kuat dan mengenal aroma Alisya sehingga setiap perubahan hati dan emosi yang dikelurkan oleh Alisya dari auranya bisa dirasakan dengan mudah oleh Adith melalui hidung sensitifnya.

”Jangan khawatir, Ryu pasti akan baik-baik saja! Dia lebih kuat dibanding dengan kami” Adith mendekati Alisya saat merasakan aura Alisya yang semakin tak karuan.

Ketika Adith menggenggam tangan Alisya dengan lembut, aura Alisya yang membara seketika menghilang. Ritme detakkan jatung Adith seperti sebuah metronom yang secara pasti dengan satu detakkan langsung menenangkan Alisya.