Chapter 199 - Pergi dari Sini (1/2)
”Baiklah... aku akan mengikuti permainanmu! Apa yang ingin kamu lakukan?” Alisya pasrah akan mengikuti keinginannya agar ia memiliki kesempatan untuk menyelamatkan Karin.
”Nah... gitu dong, jadi kita main menyelamatkan teman. caranya adalah aku akan bertarung dengan dia. Tentu saja aku akan menyesuaikan dengan kemampuannya, tetapi kau harus bisa meloloskan diri dari kawat itu secepatnya, karena setiap kali waktu berjalan aku akan meningkatkan kekuatanku. Cepat loloskan diri dan selamatkan sahabatmu, jika tidak kau yang akan menyesalinya sendiri.” ucapnya dengan melemaskan lilitan kawat pada leher dan kaki kari sehingga Karin dengan cepat melepas lilitan itu darinya.
Alisya sudah menduga kalau permainan yang ingin dimainkannya pasti akan berhubungan dengan nyawa karena Ophelia sangat menyukai pertarungan nyawa. Akan tetapi jika dia tidak melakukannya maka hal yang lebih buruk juga tetap akan terjadi. Setidaknya dengan caranya dia masih punya kesempatan.
”Siap... Mulai” ucapnya memberi aba-aba pada saat Karin baru saja berdiri dari tempat duduknya.
Ia melesat dengan cepat melayangkan satu hantaman lurus menggunakan pisaunya yang mengenai bahu Karin yang belum sempat menghindar. Kakinya yang terluka menjadi penghambat gerakannya.
”Apa yang harus kita lakukan? kita sudah tak bisa melihat semuanya karena wanita itu menghancurkan alat yang ada pada Karin. Kacamata keduanya juga sudah lepas dan dihancurkan sehingga kita tak bisa menyaksikan semuanya!” Ucap Riyan panik saat sambungan mereka terputus namun masih bisa mendengar jeritan mereka dari alat peredam yang berada ditelinga Alisya.
”Kita tak punya jalan lain. Aku sudah melaporkan pada polisi tapi mereka hanya mengirimkan dua orang disana. Itu tidak akan cukup, mereka malah berpikir aku sedang mengirimkan panggilan main-main. Kita harus menghubungi Ayah Alisya dan juga Adith.” ucap Zein cepat mengingat Alisya dan Karin sudah berada dalam bahaya.
”Bergeraklah cepat, loloskan dirimu dan selamatkan temanmu.” ucapnya lagi yang kemudian maju melayangkan sebuah tendangan yang masih bisa ditepis oleh Karin.
Alisya sudah mulai bisa melonggarkan tali kawat duri yang melilit tubuhnya, namun masih tergolong lambat karena kawat itu cukup menancap dalam disekitar tubuhnya.
”Ah....” sebuah hantaman keras mengenai dada Karin. Meski ia terus berusaha menghindari semua tinju dan tendangan yang dilayangkan kepadanya, gerakannya tetap saja terlambat untuk bisa menghindar. Ophelia bukanlah lawan yang mudah bagi Karin.
”Kau bertahan lebih lama dari yang ku duga, kalau begitu saatnya menaikkan seranganku!” ucapnya menatap Karin dengan penuh semangat.
Kali ini ia melesat lebih cepat dari sebelumnya dengan segera melangkah kesana kemari dengan kecepatan tinggi menyayat-nyayat tubuh Karin sedikit demi sedikit. Gerakannya sangat cepat untuk bisa di ikuti oleh Karin sehingga ia susah untuk menghindari setiap hujaman pisau yang mengarah pada dirinya.
”Satu...” hitungnya sambil menghujamkan Pisau Belatinya tersebut ke tubuh Karin dengan sangat cepat namun masih dihindari oleh Karin dengan baik.
Alisya juga mempercepat gerakannya saat melihat Karin yang masih bisa menghindar sehingga secara perlahan kawat duri itu lepas dari bagian tangannya.
”Dua...” Ia melesat lagi cepat disamping kanan Karin dan Pisau belatinya menghujam di paha Karin dan langsung merobek pahanya cukup dalam. Karin langsung bertekuk sebelah kaki karena merasakan sakit.
”Tiga...” sebuah hantaman yang cukup keras kembali mengenai perutnya dan menyobek baju serta perut Karin. Bajunya cukup tebal sehingga hanya memberi kikisan yang cukup tipis.