Chapter 223 - Legenda Sekolah (1/2)

Merasakan ada sesuatu yang aneh, mereka serentak menoleh ke arah jendela kelas dengan sama-sama memutar bola mata mereka secara perlahan-lahan.

Dari arah sana mereka sedang melihat jendela itu tertutup dengan sangat rapat. Mereka bingung dengan suhu ruangan yang tiba-tiba semakin dingin itu. Jika bukan dari jendela, lalu dari mana arah datangnya desiran angin dan suhu dingin yang tiba-tiba menusuk dan menjalar masuk kedalam tubuh mereka.

”Karin, ngapain AC nya di nyalain sampai gas pol sih??? ini tuh sudah dingin sekali. Kamu mau membuat kita semua membeku?” Alisya langsung merebut remote AC dari tangan Karin. Alisya sudah tidak tahan dengan suhu ruangan itu yang semakin dingin karena kerjaan Karin.

”Ya ampun Sya, kamu kan tau aku nggak bisa tidur kalau nggak pake AC... Bagaimana aku bisa tidur malam ini kalau kamu matikan AC nya?” Karin merengek karena tahu Alisya tidak tahan dengan suhu lingkungan yang sangat dingin.

”Aku tau, tapi nggak sampai kamu nyalain 3 AC sekaligus juga kan? lagi pula kita semua itu ada di ruangan yang sama dengan kamu. Yang lain juga belum tentu bisa se tahan itu terhadap dingin tau!” seru Alisya kesal dengan tingkah Karin yang tanpa mereka sadari sudah ingin menyalakan AC yang ke empat.

Karin yang sudah terbiasa tidur dengan ruangan Full AC membutuhkan lebih dari sekedar dingin untuk membuatnya nyaman karena ruangan itu cukup besar sedang baginya suhu ruangan itu cukup panas.

Adora dan yang lainnya seketika membeku melihat dua orang itu dengan santainya mempertengkarkan hal lain sedang mereka sedang dalam mode horor.

”Aku sudah ketakutan setengah mati mereka dengan santainya berebut remote AC.” seru Adora dengan pandangan yang tajam ke arah Alisya dan Karin

”Aku bahkan sempat mengira kalau gendre novel ini tiba-tiba berubah menjadi gendre Horor yang dari sebelumnya Romance Foction!” tambah Aurelia menghela nafas panjang melihat pertengkaran dua wanita monster di sekolah mereka itu.

”Kasi nggak tuh remote!!!” ancam Karin yang langsung menghambur ke tubuh Alisya.

”Nggak... kamu jangan egois dong, aku nggak suka dingin, yang lain juga nggak suka dingin. Denger nggak sih??” Karena kesal, Alisya yang mendorong wajah Karin dengan kuat seketika menarik kedua kedua lobang hidung Karin ke atas yang membuat Karin meringis memohon ampun.

Melihat pandangan teman-temannya sudah mengarah ke mereka berdua, Alisya dan Karin langsung menoleh menatap mereka.

”Kalian berdua mengganggu kesenangan kami saja. Aku pikir hantunya beneran muncul karena aku ceritakan.” ketus Feby yang perhatiannya teralihkan karena Karin dan Alisya.

”Berhentilah memperebutkan remote itu. Karin, kau hanya bisa memasang 1 AC yang dekat dengan tempat tidurmu. Sedangkan di tempat lain tidak usah kau nyalakan, dengan begitu semuanya bisa tertidur dengan nyaman.” serang Aurelia dengan suar dingin.

”Tapi jika seperti itu aku tidak bisa tidur dengan lelap.” rengek Karin berusaha mendapatkan kenyamanannya.

”Kau mau tidur dengan memakai pendingin AC itu atau aku masukkan kau kedalaman frezeer dan kulkas?” ancam Alisya dengan suara dingin yang seketika membuat Karin meringkuk ngeri.

”Lalu kenapa itu dikatakan dengan legenda sekolah ini?” tanya Gina masih penasaran karena cerita Feby belum sampai pada klimaksnya. Tidak peduli dengan perdebatan Alisya dan Karin yang takkan pernah bisa mereka lerai.