Chapter 225 - Kau terlalu baik Mizan (1/2)
Setelah selesai melakukan kesepakatan, mereka semua turun kebawah untuk memulai lombanya. Kelompok Ubay yang sebelumnya kekurangan anggota sudah mengumpulkan anggotanya yang sesuai dengan jumlah dari Adith dan teman-temannya.
”Baiklah, dalam pertandingan ini tidak ada aturan penting. Kalian bisa melakukan apapun selama itu tidak membahayakan nyawa lawan main mu.” seru Ubay menjelaskan terlebih dahulu Alur dari pertandingan itu.
”Kalian bisa mengirimkan tiap perwakilan tim kalian sebagai juri di atas untuk melihat siapa yang lebih dahulu sampai. Tentu saja, orang yang memiliki keberanian cukup tinggi untuk berada disana dalam waktu yang lama.” tambah Erik yang sudah menyiapkan seorang temannya yang laki-laki untuk berada disana.
”Tapi sepertinya sekarang kalianlah yang sedang kekurangan orang. Kalian butuh 2 orang pria lagi untuk bisa menjadi juri pada garis start dan garis finish nantinya. Terlebih yang cukup berani disana. hahhaahhaha” Gery tertawa dengan terbahak-bahak memandang remeh Adith dan yang lainnya.
”Tidak perlu laki-laki untuk berada disana, aku dan Karin sudah cukup untuk menjadi jurinya. Biar Karin yang dibawah dan Aku yang akan berada di atap gedung lantai 5.” seru Alisya menawarkan diri yang membuat mereka kembali tertawa karena Alisya mencoba berani untuk naik.
”Tidak masalah, Mizan... Karena kau tidak ingin ikut, maka setidaknya kau harus menjadi juri. Kau bisa naik ke lantai 5 sekarang.” seru Ubay yang langsung memerintahkan Mizan dengan kasar.
Adith langsung mengangguk kepada Alisya memberi tanda bahwa dia juga bisa ikut naik.
”Mizan... nikmati waktumu bersamanya dengan baik. Dan kau, jika takut kau bisa berteriak sekencang kencangnya karena Mizan akan langsung melindungi mu dengan sepenuh hati.” ucap Gery dengan setengah berteriak untuk membuat Alisya yang sudah lebih dahulu berjalan mendengar suaranya.
Tidak memperdulikan mereka, Alisya dan Mizan segera naik ke atas menggunakan tangga darurat ketimbang Lift untuk terlebih dahulu memastikan keadaan adaan dan keamanan sekitar tangga saat mereka melakukan perlombaan.
Gedung komplek elite sudah memiliki sistem tekhnologi yang cukup tinggi dimana untuk akses dari satu lantai ke lantai berikutnya sudah menggunakan lift yang terlihat nyaman dan mewah.
”Maafkan teman-temanku, aku harap kamu tidak tersinggung dengan apa yang sudah mereka katakan.” ucap Mizan dengan nada yang lembut kepada Alisya. Alisya tersenyum mendengar suara sopan dari mulut Mizan.
”Aura mu berbeda dengan mereka, kau terlihat lebih bersih dan hangat. Auramu memancarkan kasih sayang, tapi mengapa kau terjebak dengan orang-orang yang memiliki ritme jantung mengerikan seperti mereka?” Mizan mengerutkan keningnya mendengar kalimat Alisya yang sedikit membingungkan.
”Baru kali ini ada orang yang menilai dengan cara yang berbeda, biasanya orang lain akan bilang mengapa kamu bersama dengan orang-orang brengsek seperti mereka. Seperti itulah yang biasanya aku dengar.” Mizan tertawa kecil karena penilaian Alisya yang jauh lebih detail dari perkiraannya.
”Itu karena aku memang merasa mereka memiliki banyak alasan dibalik sikap mereka. Di setiap perkataan mereka, tersirat akan sebuah kemarahan dan kekesalan yang ingin mereka keluarkan. Tapi aku tak yakin akan sikap mereka seperti saat ini.” jelas Alisya terus naik hingga sudah mencapai lantai ke 3 gedung itu.
”Aku rasa sebaiknya kau mengingatkan mereka untuk menghentikan pertandingan ini sebelum terlambat, mereka akan melakukan segala cara untuk bisa memenangkan pertandingan ini. Mereka itu licik, kau jangan menganggap remeh mereka.” ucap Mizan mencoba memberikan peringatan kepada Alisya yang meski dia adalah seorang lawan, dia masih berusaha untuk melihat sisi baik dari seseorang.