Chapter 239 - Lomba Seni (1/2)

Hari kedua adalah perlombaan seni tingkat SMA. Beni yang sangat lihai memainkan Drum dan Juga Gani yang tak kalah hebatnya bermain gitar serta Yogi dengan gitar basnya segera melakukan persiapan untuk segera menampilkan persembahan mereka.

Dengan penuh semangat mereka menampilkan permainan musik solo yang sangat memukau. Aurelia bahkan tak bisa mengalihkan padangannya dari Yogi karena begitu terpesona dengan penampilan Yogi yang sangat menarik perhatian tersebut.

”Hebat, apakah mereka sehebat itu selama ini? atau memang aku yang tak menyadari kalau mereka memiliki sisi keren seperti ini?” tanya Akiko yang merasa baru kali itu dia melihat sisi lain dari Beni, Gani dan Yogi.

”Entahlah, kami juga tak menyangka kalau mereka bisa menampilkan sesuatu dengan keren sekali. Selama ini kita hanya melihat sisi konyol dan urakan mereka sehingga kita tidak menyadari potensi yang ada dalam diri mereka.” jelas Adora terhadap kemampuan 3 orang temannya tersebut.

”Melihat sisi mereka yang seperti ini membuatku berpikir bahwa tidak semua apa yang kita lihat dari luar sudah merupakan jati diri masing-masing, melainkan setiap orang pasti memiliki sisi lain dari dalam dirinya tanpa menilai dan menjudge seseorang secara sepihak.” jelas Karin merasa kagum akan penampilan mereka yang cukup memuaskan.

”Sebentar lagi kau akan melihat sesuatu yang lebih mengagumkan.” ucap Zein setengah berbisik kepada Alisya. Alisya hanya memiringkan keningnya tak paham akan apa yang sedang dimaksudkan oleh Zein sehingga ia tetap melihat ke arah panggung.

Alisya hanya terus melihat tanpa ekspresi yang setelah itu seseorang muncul dengan tampilan rapi dan berjas hitam. Paras tampannya serta senyum manisnya seketika membuat seluruh gedung seni membahana heboh. Semua wanita yang melihat dia duduk dengan maskulin membuat semua orang berteriak hingga serak.

Dia duduk dihadapan piano berwarna putih bersinar yang dengan satu kali lirikan matanya saat melihat kearah bawah panggung langsung membuat semua wanita yang sedang menontonnya meleleh sempurna.

”Woww... Sepertinya dia sudah mengambil Alih seluruh panggung ini yah!!!” Arka muncul bersama Yumna yang berada disampingnya.

Alisya langsung tersenyum hangat dengan kedatangan keduanya.

Arka yang sedang menggoda Alisya menjadi kehilangan fokus sehingga ia hampir tidak memperhatikan Yumna yang sempat tertabrak oleh beberapa wanita yang sudah berlari menuju panggung.

”Yumna!!!” teriak Alisya yang secara bersamaan Alisya menarik Yumna kearahnya dan Arka yang memasang tubuh untuk melindungi Yumna. Tubuh Arka beberapa kali ditabrak dengan sangat keras oleh mereka yang berlarian menuju ke arah panggung karena ingin melihat lebih dekat.

”Sepertinya aku seharusnya tidak merusak moment romantis kalian berdua yah?” tanya Alisya kepada Arka yang masih harus memperbaiki posisinya yang sempat kehilangan keseimbangan karena tabrakan para bucin yang menghalu gila. Mereka berhamburan dengan teriakan yang cukup kencang.

Zein serta Rinto juga segera memasang tubuh untuk melindungi Alisya dan Yumna sedangkan Riyan dan yang lainnya juga melakukan hal yang sama demi melindungi teman-teman mereka karena mereka sudah terjebak di lautan manusia yang sudah memenuhi tempat untuk melihat penampilan seseorang yang tak disangka-sangka.

”Maafkan aku, aku.. ” Ryu meminta maaf karena tubuhnya yang tertabrak membuat posisinya dengan Karin sangat dekat bahkan Karin bisa merasakan dada Ryu yang menempel di bagian punggungnya dengan hangat.

”Ah... tidak masala... lah!!!” Karin yang menoleh ingin menjawab ucapan Ryu seketika terhenti karena Ryu yang sekali lagi tertabrak membuat dia mencondongkan tubuhnya kedepan sehingga bibir Karin menempel hangat di pipi Ryu. Mata Karin langsung membelalak dengan sangat besar.

Keduanya membeku beberapa saat sampai langsung dengan cepat Karin memalingkan wajahnya. Jantung Karin berdetak begitu cepat dan tak karuan. Hati dan pipi Karin seketika memanas menguapkan ekspresinya yang penuh malu. Ingin rasanya ia menghilang dari tempat itu.

Bahkan Ryu yang masih belum bisa mengembalikan fokusnya merasa linglung dengan keadaan yang baru saja terjadi sampai beberapa saat setelah piano berdentang keras.

Dentangan piano itu langsung saja membuat semua penonton yang gaduh menjadi diam untuk bisa menyaksikan pertunjukan dengan lebih nyaman.

”Alisya....This Song Is For You!!!” suara Adith yang dalam lembut langsung merasuk masuk kedalam hati Alisya dan menggetarkan seluruh tubuhnya.

Semua orang berteriak dengan sangat histeris begitu Adith menyebut nama Alisya sehingga Zein yang tadinya sedang memegang bahu Alisya untuk membuatnya tetap berdiri karena semua tubrukan itu secara perlahan menurunkan tangannya.

Zein tersenyum melihat dirinya yang masih belum bisa melepas Alisya meski itu demi sahabatnya. Namun melihat ketulusan Adith dan tatapan mata Alisya, Zein sadar bahwa tidak ada posisi spesial lain baginya selain sahabat untuk bertengger di hati Alisya.

Ketika tangan kekar dan kokoh Adith perlahan menekan tuts piano dengan lembut seperti sedang bermain dengan seorang kekasih dan memperlakukannya dengan sangat romantis, Adith langsung mengalunkan melodi melodi romantis yang dengan satu helaan nafas dia menyanyikan sebuah lagu.

”I found a love for me...

Darling, just dive right in and follow my lead

Well, I found a girl, beautiful and sweet

Oh, I never knew you were the someone waiting for me...” suaranya mengalun indah membuai semua terasa ikut masuk kedalam lagu.

”'Cause we were just kids when we fell in love

Not knowing what it was