Chapter 251 - Rebound (1/2)

”Untuk kali ini, sebaiknya kita bisa bermain dengan kompak. Jika tidak kita akan mengalami kekalahan yang cukup memalukan.” Adith menghampiri Ubay dan Erik yang sudah bersiap ditengah lapangan.

”Karena kita memiliki tujuan yang sama yaitu mengalahkan mereka, maka aku terima tawaranmu!” ucap Ubay sambil menyalami tangan Adith sebagai persetujuan.

”Tak kusangka hari ini kita akan bekerja sama.!” Ucap Yogi menghampiri mereka bertiga.

”Jangan menjadi beban jika kau tak bisa bermain dengan benar.” Erik sudah mengambil posisi bertahan dengan cepat.

”Lihat saja nanti!” seyum Yogi penuh percaya diri pada kemampuannya.

Perebutan bola telah dimulai, Raffa berhasil merebut bola dengan sangat mudah dari Ryu, Raffa dengan cepat mampu mengendalikan alur pertandingan dengan memanfaatkan tubuhnya yang terbilang tinggi dan besar. Seolah tubuhnya hanya dilapisi oleh Otot yang padat disekujur tubuhnya.

”Yogi...” Ryu langsung bertukar posisi dengan cepat yang membuat Yogi kini sudah berhadapan dengan Raffa.

”Cihh,,, anak kecil seperti kamu beraninya melawan diriku.” maki Raffa yang tak suka saat melihat tubuh Yogi yang terlihat lebih kecil darinya, berani melangkah dengan tatapan datar dihadapannya.

Raffa mendrible bola dengan susah payah dan tak bisa memberikan tekanan kepada Yogi. Yogi memiliki pertahanan yang kuat sehingga dorongan dan tekanan yang ia beriak kepada Yogi tak membuat pertahan Yogi melonggar. Dengan terapksa dia segera melempar bolanya ke pada Arya.

”Sial, tehnik apa yang sudah dilakukannya, bagaimana mungkin dia bisa menerima semua tekanan yang aku berikan dengan wajah datarnya itu?” gumam Raffa sambil terus berusaha meloloskan diri dari pertahanan Yogi.

”Aku tak tahu rencana apa yang sudah kalian lakukan, tapi itu tidak akan merubah kenyataan sama sekali!!!” Arya berputar dengan sangat cepat setelah memberikan tekanan yang sedikit membuat Adith salah langkah dan hampir kehilangan keseimbangan karena dia lupa untuk menjaga jarak. Karena Arya yang mencondongkantubuhnya membuat Adith terdorong kebelakang yang dengan memusatkan kembali fikirannya Adith bisa mengembalikan posisinya.

”Kami juga takkan tahu kalau belum mencobanya.” Adith dengan baik melakukan pertahanan penuh untuk menghentikan Arya dengan mengikuti setiap gerak langkah kakiknya.

Lapangan terlihat sibuk dan ribut karena cekitan dan hentakan kaki dari para pemain yang sedang bertempur didalam lapangan. Gerakan mereka yang sangat aktif membuat penonton duduk dengan nafas yang tercekat akibat panasnya pertandingan Final ini.

”Tidak ku sangka ada 3 orang dalam satu unit yang ada di sekolah SMA Tunggal Ika, diantara yang lain hanya mereka bertiga saja yang terlihat memiliki enegi nano dalam tubuh mereka sedangkan yang lainnya adalah siswa biasa.” gumam Alisya sambil terus memperhatiak mereka dengan saksama.

”Apa yang kamu maksudkan?” Karin masih tak mengerti apa yang dimaksudkan oleh sikap Alisya yang sedari tadi terlihat sangat waspada.

”Black Falcon mengirimkan unit nya untuk menangkapku kembali atau membunuhku jika diperlukan. Hal ini karena mereka tidak menyia-nyiakan kesempatan mereka untuk mendapatkan penelitian lebih lanjut mengenai tubuhku karena mereka tau dari kemampuan sewaktu aku berhasil membunuh Ophlia lalu.” terang Alisya yang tak melepaskan pandangannya dari lapangan.

”Itu artinya yang kamu maksud itu adalah 3 orang siswa itu?” tunjuk Karin yang matanya mengarah pada Arya, Raffa dan Satu lagi yang sangat diam dan tak memiliki ekpresi apapun sama sekali.

Arya langsung menggiring bola dengan melewati Adith serta memperpendek jarak diantara keduanya sehingga dengan sedikit bantingan siku yang langsung menekan keras tulang rusuk Adith membuat Adith melonggarkan pertahanannya yang kemudian membuat Arya dengan mudah melakukan Slam Dunk (gerakan memasukkan bola ke dalam ring/keranjang dengan tubuh melayang) untuk memberi mereka poin.

”Kau baik-baik saja?” tanya Ryu cepat membantu Adith berdiri dengan tegap.

”Aku baik-baik saja, aku masih bisa sedikit menghindarinya tadi sehingga tidak berdampak cukup besar!” Adith dengan cepat membuat tubuhnya tegap untuk memberi tanda kalau dia baik-baik saja.