Chapter 259 - Penutupan 2 (1/2)

Ryu yang melihat Karin sedang kerepotan saat menangani beberapa pria yang sedang mengajaknya berkenalan dan bahkan meminta nomor telpon dan alamat media sosialnya dengan cepat menghampiri Karin dan langsung berdiri dihadapan Karin menghadapi semua pria itu dengan tatapan dingin.

”Maaf, sebaiknya kalian pergi dari sini. Dia adalah milikku.” tegas Ryu dengan tatapan mantap dan penuh percaya diri.

”Apa milikmu? kau pikir siapa dirimu?” seorang pria dengan kuat mendorong bahu Ryu.

”Kami sudah mencari tahu, Karin itu tak memiliki seorang pacar sekalipun.” tambah pria lainnya mencoba mendorong Ryu dari sana namun posisi Ryu bahkan tak bergeser sedikitpun.

”Sekarang dia adalah milikku.” Rangkul Ryu cepat dimana Karin hanya terpana memandang wajah Ryu lekat-lekat tanpa berpaling.

”Karin, apa benar yang di katakan?” tanya mereka dengan tegas.

”Karin, kau mendengar kami tidak?” ucapnya sekali lagi dengan suara yang lebih lantang.

”Sudahlah! kau bisa lihat sendiri bagaimana reaksi Karin terhadapnya. Jika tidak benar, dia pasti sudah di hajar dari tadi.” ucap seorang lain yang sadar saat melihat tatapan terpesona Karin terhadap Ryu.

Mereka dengan penuh rasa malu segera bergegas meninggalkan mereka disana.

Riyan yang baru saja bisa melepaskan diri dari para wanita yang mengerubuninya dengan begitu agresif langsung terhenti. Ia yang sebelumnya ingin mengungkapkan perasaanya kepada Karin dihadapan semua orang langsung menelan ludah pahit karena telat beberapa detik dari Ryu yang bisa dengan mudah menolak semua perempuan yang menghampirinya dengan mantap dan tanpa basa-basi.

Ryu yang ingin bersikap baik dengan menolak mereka secara sopan pada akhirnya malah membuatnya harus kehilangan satu kesempatam yang sangat berharga baginya.

”Terkadang terlambat dalam mengambil keputusan dapat membuatmu kehilangan sesuatu yang berharga.” Batin Riyan tersenyum atas lambatnya ia saat mengambil keputusan.

Berbeda dengan Ryu yang langsung menanggapi perasaannya dengan cepat. Sehingga keberuntungan pun menghampiri dirinya.

”Zein... zein... zein.... ka... kami bisa menjadi temanmu kan?” tanya seorang perempuan menyerbu Zein yang terus melarikan diri. Mereka terus memanggil nama Zein dengan penuh nafsu.

”Bisakah kalian hentikan itu? apa kalian tidak lihat bagaimana dia kewalahan menghadapi kalian semua? laki-laki itu paling benci dengan wanita yang agresif.” bentak Adora mulai kesal dengan tingkah mereka yang seperti cacing kepanasan.

”Apa urusanmu? dia bahkan bukan siapa-siapa mu.” bentak seorang perempuan melawan ucapan Adora.

”Kalian yang dari sekolah lain juga kenapa begitu sibuk mengganggu pria dari sekolah lain? apa sekolah kalian sudah kehabisan stock orang ganteng?” Adora menatap dengan sinis tak ingin kalah.

”Puftttt hahahah... kau cemburu karena kami mendekati dia? Dia bahkan tidak menolak kami dan kau terlihat seperti seorang gorila yang diambil makanannya.” terang yang lainnya tak kalah sinis menatap Adora dengan tajam.

”Ha??? Cemburu? buat apa saya cemburu pada orang seperti kalian? lagi pula Zein juga takkan mungkin menyukai orang seperti kalian.” Adora menyunggingkan senyuman jahat dengan penuh percaya diri.

”Orang seperti kami? Orang seperti kami juga masih penuh percaya diri. Lihat dulu dirimu sebelum bicara, memangnya dengan kau berkata seperti itu Zein juga akan menyukai mu?” serang yang lainnya dengan lebih lantang.

”Setidaknya dia lebih tau cewek yang bermartabat dibanding model murahan seperti kalian.” tegas Adora kesal dengan sikap mereka.