Chapter 266 - Selamat Pagi Sayang... (1/2)

Adith yang sudah berkeliling hampir kesemua tempat untuk mencari Alisya akhirnya dapat menemukannya sedang terbaring.

”Apa yang kau lakukan di....sini?” Adith menghampiri Alisya yang sedang terbaring malas pada meja di dalam perpustakaan. Adith mengira kalau Alisya tidak sedang tertidur namun begitu menatap ke arah wajahnya, ternyata Alisya sudah berlayar ke dunia mimpinya.

Tidak ingin membangunkannya, Adith menarik kursi dengan sangat pelan lalu duduk pada kursi di bagian depannya. Ia duduk dimana ia bisa merebahkan kepalanya menatap wajah Alisya yang sedang tertidur.

”Bagaimana bisa kau jadikan perpustakaan sebagai tempat tidurmu?” Batin Adith sembari memindahkan rambut Alisya yang menutupi sebagian wajahnya.

Alisya tertidur begitu pulas yang membuat Adith berpikir bahwa dia memiliki banyak pikiran yang membuatnya tidak tidur semalaman sehingga ia menjadi tertidur pulas di jam istirahat.

”Aku ingin sekali kau mengingatku secepatnya, tapi jika kau mengingatku apakah kau masih akan bersama denganku? berada di sisiku dan memandangku dengan penuh rasa cinta?” Batin Adith lagi sembari mengelus pipinya dengan sangat pelan yang sesekali ia lepas agar tidak membangunkan Alisya.

Adith tersenyum saat Alisya menghembuskan nafas dengan begitu kuat. Mata yang tertutup membuat bulu mata atas dan bawah terlihat saling bertaut erat, Alisya yang cukup tebal, pipinya yang putih merona, hidungnya yang mancung, dan bibirnya yang tipis dan mungil.

Bel jam pelajaran berikutnya berbunyi dengan cukup keras membuat Adith spontan berdiri dari tempatnya dan menutup telinga Alisya agar tidak terganggu dengan suara sirine itu. Semua siswa yang berada di perpustakaan satu persatu mulai keluar dari sana.

”Suara bel itu membuatku kaget saja. Apa ini akan mengganggunya?” bisik Adith masih dengan posisi menutup lembut telinga Alisya. Ia pun menoleh ke arah Alisya yang masih tertidur pulas tanpa terganggu dengan bunyi bel yang cukup keras tersebut.

Melihat wajah Alisya yang damai, membuat Adith menjadi gemas sehingga ia secara perlahan-lahan mendekati wajah Alisya. Dengan satu tarikan nafas lembut saat menatap wajah Alisya lekat-lekat dalam jarak yang cukup dekat, Adith kemudian mencium bibirnya dengan lembut dengan mata tertutup.

Kehangatan bibir Adith yang mengecup bibir Alisya membuat Alisya terbangun dari tidurnya dan menatap dengan pandangan kaget tak percaya. Adith yang melihatnya terbangun saat ia baru saja selesai mencium bibirnya, hanya memandang dengan gemas dan tersenyum manis.

”Selamat pagi sayang...” ucap Adith dengan tatapan mata yang tajam kepada Alisya yang sudah setengah terduduk karena bingung kemudian Adith perlahan-lahan kembali mendekatkan wajahnya ke bibir Alisya dan mengecupnya sekali lagi.

Alisya membelalakkan matanya masih dalam keadaan bingung tapi setelah itu dia menutup matanya dengan cepat menerima ciuman Adith dengan terdiam. Setelah beberapa saat, ia membuka matanya dan kaget karena tak menemukan Adith disana.

”What??? aku mimpi apa sih.. Masa iya aku mimpi basah disiang bolong gini... Gila setan apa yang sudah merasuki ku?” gumam Alisya sembari menampar pipinya dengan sangat keras mengira kalau dia baru saja bermimpi yang aneh.

Adith tertawa pelan mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Alisya. Merasa detak jantungnya terlalu kuat, Adith dengan sangat perlahan bersembunyi ke arah rak buku yang lebih jauh lagi sembari memperhatikan Alisya yang sedang gusar dari jauh.

”Aahhhh ya ampun Sya,, bisa nggak sih kamu menahan diri? kamu nggak punya malu apah? Bagaimana kalau ada orang yang liat tingkah tadi???” Alisya menggaruk kepalanya dengan kasar menyalahkan dirinya sendiri yang sedang memikirkan hal-hal yang sangat tidak wajar baginya.

”Sepertinya bukan kamu yang tidak bisa menahan diri Sya, tapi aku. Semakin aku bersamamu semakin aku tak bisa menahan diri dengan baik.” Adith memegang dadanya yang jantungnya masih terus berdetak keras mengalirkan darahnya dengan kencang.

”Apa aku juga sebaiknya mengambil langkah dengan menikahi mu setelah lulus nanti. Dengan begitu kau bisa menjadi milikku sepenuhnya dalam keadaan halal.” lanjutnya lagi mengingat akan sebuah keputusan yang diambil oleh Arka untuk menjadi tunangan Yumna demi mencegah hal-hal buruk seperti yang baru saja ia lakukan.

”Huhhh,,, bahaya.. ini bahaya sekali” Alisya mendesah kelelahan setelah cukup puas menyiksa dirinya sendiri yang sudah berpikiran aneh.

”Jam berapa sekarang?” ia melirik ke arah jam tangannya yang dengan satu gerakan cepat dia bangkit dari kursinya.