Chapter 277 - Lampion (1/2)
Saat matahari semakin terbenam, mereka dengan cepat membakar Api unggun untuk dijadikan sebagai penghangat pada Angin laut yang cukup dingin saat malam hari.
”Kau memang sesuatu Sya, aku bahkan masih belum menyangka kalau kalian akan menikah.” Karin memandang langit yang sudah mulai menampakkan kelap-kelip nya.
”Aku juga seperti itu, tapi banyak hal yang sudah terjadi antara aku dan Adith. Adith berperan penting dalam dua hal di hidupku, Ia bisa menjadi kekuatan sekaligus kelemahan ku. Dan karena itu memilikinya untuk terus berada disisi ku memang menaruh resiko yang besar, namun aku lebih memilih untuk bisa bersama dengan dia.” terang Alisya memandang langit yang sama dengan Karin.
”Apa kau sudah terpikir akan apa yang kau lakukan nanti setelah menikah dengan Adith?” Mereka yang masih muda membuat Karin berpikir bahwa keduanya mungkin masih belum memikirkan bagaimana kerasnya kehidupan berumah tangga seperti apa.
”Entahlah, aku hanya berpikir bahwa seberat apapun masalah yang akan kami hadapi nanti, akan jauh lebih mudah jika kami bersama dibanding jika kami terpisah.” senyum Alisya yang saat itu memang masih belum tahu akan apa yang bisa terjadi dimasa depannya, namun bagi dia selama mereka bersama maka mereka pasti akan bisa melaluinya.
”Kau tau, aku akan terus mendukungmu sampai kapanpun itu selama kamu bisa menemukan kebahagiaanmu disana.” tatap Karin kepada Alisya memperlihatkan ketulusannya.
”Aku pun sama, aku akan terus mendukung mu melakukan hal yang kamu mau bukan terpaut apa yang aku mau!” tegas Alisya kepada Karin dengan menyuruh Karin bahwa ia juga bebas memilih kebahagiaan nya sendiri tanpa harus terus terpaku kepada Alisya seperti selama ini ia lakukan.
Saat mereka sedang berbincang-bincang mengelilingi api unggun, Beni segera memegang sebuah ember plastik yang kemudian di pukul pukulannya menghasilkan tabuan yang cukup merdu. Gani serta Yogi juga ikut memainkan gitar nya ditemani oleh Gina yang bermain biola. Harmoni mereka begitu indah sampai Alisya dan Karin larut dalam alunan musik mereka.
”Mau melakukan sesuatu yang seru?” tanya Karin kepada mereka semua dengan penuh antusias.
”Apa itu?” tanya Adora dengan kerutan kening.
Karin langsung menatap ke arah Akiko dan dengan cepat mereka kembali menuju ke penginapan yang tak jauh dari tempat mereka bersantai dan kembali dengan 1 kotak dos yang cukup besar.
”Apa yang ingin kamu lakukan sebenarnya?” tanya Aurelia ikut membuka tutup dos tersebut dengan penasaran.
”Lampion?” ucap Feby dengan tatapan yang sangat antusias saat melihat ada lampion disana.
”Oke aku pilih yang ini.” Alisya dengan cepat mengambil sebuah kembang api yang cukup besar dengan tatapan yang mengerikan.
”Lepaskan itu! A... aku tak mengizinkan kau menggunakannya! tidak dengan tatapan mengerikan mu itu.” terang Karin menarik cepat kembang Api tersebut dari tangan Alisya karena takut.
”Tck,,, tidak menyenangkan. Dasar pelit!” ketus Alisya kembali duduk karena tak begitu tertarik dengan lampion.
”Apa yang akan kita lakukan selain menerbangkan lampion ini?” tanya Gani merasa sayang jika hanya menerbangkannya saja.
”Bagaimana kalau menghiasinya? atau kita juga bisa menuliskan sebuah harapan disana. Hanya untuk seru-seruan saja!” ucap Yogi cepat yang ikut merasa penasaran dengan apa yang dibawa oleh Karin dan Akiko.
”Ya kau benar, sepertinya itu akan jauh lebih menarik.” tegas Riyan cepat.
”Oke aku punya ide yang lebih ekstrim lagi. Bagaimana jika penerbangan lampion dan penulisannya bisa kita buat dengan berpasangan ?” terang Karin penuh semangat.