Chapter 288 - Ubay Terbunuh (1/2)

Alisya mengerutkan keningnya mendengar apa yang dikatakan oleh Rafaela mengenai Ubay, namun melihat kakinya yang berpijak santai di kepala Ubay sedikit membakar amarah Alisya. Ia dan Ubay memang tidak terlalu akrab, tapi tetap saja Alisya tidak suka dengan apa yang dilakukan oleh Rafaela kepada Ubay.

”Lepaskan kakimu dari kepalanya!”Ucap Alisya dingin dengan tatapan yang sangat tajam kepada Rafaela. Alisya juga mengeluarkan auranya dengan kuat untuk mengintimidasi Rafaela.

”Kenapa? apa karena dia kekasihmu sehingga kau terlihat sakit saat melihat aku memperlakukannya seperti ini?” tanya Rafaela yang sengaja ingin membuat Alisya marah dan meradang.

”Kau hanya memiliki urusan dengan ku. Jadi lepaskan saja dia” bentak Alisya sekali lagi dengan penuh amarah.

”Pufffttt hahahahah, kau benar-benar sayang pada laki-laki yang lemah ini?” Rafaela menendang pelan kepala Ubay sembari memandang remeh kepada Alisya.

”Kau, takkan ku maafkan kau jika kau berbuat sesuatu padanya melebihi dari ini lagi.” Alisya terlihat berjalan kesamping mengamati apa yang akan dilakukan oleh Rafaela. Alisya sudah memutuskan untuk secepatnya menyelamatkan Rafaela ketika melihat celahnya.

Melihat ekspresi khawatir Alisya, Rafaela langsung saja menarik kepala Ubay secara perlahan-lahan sedang Alisya masih tetap memasang jarak takut jika ia salah langkah maka akan membuat Ubay terbunuh.

”Benarkah?? aku penasaran bagaimana rekasimu ketika aku membunuhnya?” terang Rafaela sembari mencium wajah Ubay dengan begitu genitnya yang sedetik kemudian ia memutar leher Ubay untuk membunuhnya.

Kepala Ubay di plintirnya kesamping dengan darah yang mengalir segar dari mulutnya kaku tak bergerak dan tak bersuara lagi.

Melihat itu seketika Alisya meradang dan segera menerjang Rafaela dengan memegang lehernya dengan kuat serta tubuhnya menindih tubuh Rafaela dengan sangat erat.

”hahahahaha,,,. kau terlalu lamban dan lemah! Kau pikir dengan kekuatanmu seperti ini mampu menghentikan ku untuk membunuhmu?” Rafaela langsung memukul tangan Alisya dan menepisnya dengan memelintir tangan Alisya.

Gerakan mereka untuk saling pukul dan memelintir satu sama lain begitu cepat yang kemudian dengan satu tendangan pasti Alisya bisa mendaratkan tendangan balik dari belakangnya mengenai kepala Rafaela dengan keras.

”Kau akan membayar apa yang sudah kau lakukan, aku takkan membiarkanmu begitu saja.” tegas Alisya mengambil ancang-ancang bersiap begitu melihat Rafaela melemparkan Alisya dengan kaca dari meja room tersebut, Alisya langsung meluncur ke bawah yang begitu tipis mengenai dirinya yang dengan cepat ia bertumpu pada lantai dengan kedua tangannya.

Alisya kemudian mengambil kepala Rafaela dan membantingnya dengan keras ke lantai. Tak tinggal diam, Rafaela memegang kuat kaki Alisya kemudian menghantamkan Alisya ke tembok kemudian ke layar monitor yang lebar hingga memecahkannya.

Begitu ia akan menariknya lagi, Alisya dengan cepat menarik monitor yang sudah goyah tersebut kemudian ia angkat dan lemparkan ke kepala Rafaela yang seketika membuat pegangan Rafaela lepas dan ia oleng ke belakang setengah terduduk.

”Sepertinya kau memang sedikit lebih kuat dari Ophelia, tapi kau masih bukan apa-apa bagiku. Puiiuh...” Rafaela membuang ludah yang banyak berisi darah segar. Kepalanya yang harusnya bagi orang normal akan mengeluarkan banyak darah malah terlihat biasa saja dan tak terluka sama sekali.

”Melihat kalian begitu berusaha untuk membunuh ku membuatku terpikir untuk memburu kalian terlebih dahulu, terlebih atas apa yang sudah kau lakukan pada temanku.” Alisya menatap tajam ke arah Rafaela yang dengan seketika tekadnya berubah menjadi seorang pemburu yang sedang berhadapan dengan mangsanya.

Rafaela melayangkan tendangan menengah kepada Alisya yang di balas juga dengan tendangan. Kaki mereka bermain begitu cepat hingga menghancurkan sofa, meja, fas bunga dan beberapa barang yang berada di dalam room tersebut.

Sulit Alisya bertempur dengan Rafaela disaat tubuh Ubay masih berada disana dimana ia harus mendapatkan beberapa pukulan ketika ia berusaha menghindari tubuh Ubay sedang Rafaela tak perduli akan apapun.