Chapter 292 - Kelemahan dan Kemampuan (1/2)

”Karin, tolong kirimkan aku Maps untuk apartemen Karan.” pinta Adith begitu sambungan telpon mereka terhubung.

”Bisakah kau tidak menelpon saat sedang mengemudikan mobil? Ini bukan mobil milikku jadi ku mohon lemah lembutlah!” ucap Yogi setengah berteriak kepada Adith begitu panggilan mereka selesai.

”Maafkan aku, tapi aku tidak punya waktu lagi.” terang Adith sembari menaikkan lagi kecepatannya.

Tidak butuh waktu lama hingga Adith dan Yogi sampai di depan apartemen Karan dan tak disangka Adith kalau Karan sudah berada di depan gedung berdiri dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam kantongnya.

”Uweeeekkk!!!” Yogi langsung menghambur keluar memuntahkan semua isi perutnya karena Adith membawa mobil dengan kecepatan tinggi.

Adith turun dari mobil menghampiri Karan dengan tatapan bingung. Ia berpikir bahwa Karin mungkin memberitahu Karan akan kedatangannya dan sedang menunggunya untuk menghalanginya.

”Halo??? oh... oke, baiklah. Aku akan kembali sekarang!” Yogi kembali menutup telponnya dengan nafas yang berat.

”Ada apa?” Adith bertanya kepada Karan melihat Yogi yang terburu-buru kembali masuk kedalam mobil.

”Ubay akan di bawa ke rumah orang tuanya setelah di lakukan fisum dan otopsi. Kak Karan, aku serahkan pria yang sedang jatuh cinta itu padamu.” ucap Yogi menutup jendela kaca mobil langsung memacu mobil tersebut pergi dari sana.

”Dimana Alisya? Bagaimana keadaanya?” tanya Adith begitu melihat Yogi sudah pergi dari sana.

Karan tak menjawab dan hanya menunjuk ke arah jalan tempat dimana menjadi pintu keluar parkiran bawah tanah apartemennya.

Sebuah mobil sport milik Karan keluar dari sana dengan begitu kencang. Bisa Adith lihat kalau itu adalah Alisya. Alisya juga tak mengira kalau Adith akan berada disana saat keluar dari apartemen Karan.

”Alisyaa... Alisya..... Dia bisa mengemudikan mobil?” tanya Adith takjub tak tahu kalau Alisya bisa mengemudikan mobil sebelumnya. Adith terengah-engah kembali ke tempat Karan setelah tak berhasil mengejar Alisya.

”Dia tidak ingin aku mengantarnya, untuk itu terpaksa aku memberinya mobil.” jelas Karan menatap Adith dingin dan ekspresi yang datar.

”Terimakasih karena sudah menemani Alisya, aku pamit sekarang.” Adith langsung berbalik badan melihat ke kiri dan ke kanan mencari taksi yang mungkin lewat disekitar sana.

”Adith, masuklah!” panggil Karan memimpin jalan masuk kedalam gedung apartemennya.

Awalnya ia ingin mengajaknya ngobrol di lobi apartemen, namun melihat keadaan yang ramai di hari minggu membuatnya langsung mengajak Adith naik ke atas menuju kamarnya.

Adith segera masuk kedalam kamarnya mengikuti Karan kemudian ia duduk di sofa melihat bekas balutan yang terlihat sedikit ada percikan darah namun jiga terlihat sedikit bersih di sekitarnya.

”Itu balutan kepala Alisya yang semalam hampir tertabrak truk namun bisa menyelamatkan diri dan kepalanya terbentur di trotoar jalan.” jelas Karan sembari membawakan Adith minuman hangat.

”Bagaimana keadaanya?” tanya Adith menggenggam erat balutan kepala Alisya tersebut.