Chapter 305 - Daun Pepaya (1/2)

”Alisya..” sapa Emi senang melihat Alisya berada di dalam kelas.

”Pagi Alisya!” sapa Egi dengan penuh semangat.

”Selamat pagi Alisya!” Gina yang baru saja masuk pun mengucapkan hal yang sama.

”Pa...” Beni yang baru saja ingin menyapa Alisya, dengan cepat di hentikan oleh Aurelia.

”Berisik!!!” bentaknya kesal, Aurelia merasa jenuh dengan semua orang yang terus-terusan menyapa Alisya tiada henti.

”Oy, itu kekasih mu kenapa? Lagi datang bulan?” bisik Beni kepada Yogi yang menertawakannya.

”Selamat, kau orang ke 100 yang mengapa Alisya hari ini.” ucap Gani yang sebenarnya tidak menghitung sudah yang ke berapa kali orang-orang terus menyapa Alisya begitu mereka melihatnya berada di dalam ruangan.

”Lalu apa masalahnya?” tanya Beni bingung dengan amarah Aurelia.

”Kenapa kalian begitu lebay, seolah Alisya takkan pernah muncul lagi dengan menyapanya setiap saat.” Aurelia bukannya tidak suka kepada mereka yang menyapa Alisya, ia hanya merasa bahwa hal seperti itu tak perlu mereka lakukan.

”Benar, Alisya akan hadir setiap hari. Jadi kalian tidak perlu se lebay itu.” tambah Emi membernarkan ucapan Aurelia.

”Kau juga sama! Kan kau yang pertama memulainya.” tembak Adora kepada Emi yang membuatnya malu dan bersembunyi.

”Santai saja, aku juga senang bisa mendapatkan sapaan dari mereka semua.” Alisya tersenyum manis mensyukuri sikap ramah teman-temannya yang sudah ia rindukan selama beberapa hari kemarin.

”Tuh lihat, Alisya saja bilang tidak masalah. Kenapa kalian yang sewot sih?” Seru Beni setelah mendapatkan dukungan penuh dari Alisya.

Aurelia yang sudah siap membuka mulutnya dengan segera di hentikan oleh Karin yang baru masuk dan berdiri di depan kelas bersama Rinto.

”Oke semuanya, perhatiannya ke depan.” Karin segera menarik perhatian teman-temannya karena ada sesuatu yang ingin ia katakan.

”Ada apa? Apa terjadi masalah baru lagi?” Gani bingung karena biasanya Karin tidak pernah mengumumkan sesuatu.

”Aku baru dapat kabar dari ibu Arni, dan katanya dia sudah melahirkan seorang anak laki-laki.” ucap Karin dengan wajah penuh antusias.

”Uhuyy... Ponakan Baruuu!” Teriak Syams secara tiba-tiba yang membuat mereka semua tertawa.

”Benarkah? Wah, hebat. Jadi dimana ibu Arni melakukan persalinannya?” tanya Adora cepat.

”Rumah sakit Reynand. Kita akan mengunjunginya sebentar setelah pengayaan selesai.” Jawab Rinto yang selalu berdiri di samping Karin sebagai wakil ketua kelas selama ini.

”Rumah sakit kak Karan?” seru Gina ingin memastikan yang di jawab dengan anggukan pelan oleh Karin.

”Bukankah agak malam jika kita mengunjungi Ibu Arni setelah pengayaan?” Alisya yang berpikir bahwa tak baik jika mengunjungi Ibu Arni pada malam hari menganggap bahwa hal tersebut takkan baik bagi sang bayi.

”Kita akan percepat jam pengayaan, aku sudah meminta izin kepada guru yang akan membimbing pengayaan nanti.” Karin dengan cepat menghadap kepada guru-guru pembimbing pengayaan tepat saat ia telah mendapat kabar dari ibu Arni.

Setelah selesai memberikan pengumuman kepada teman-temannya, mereka langsung mengikuti pembelajaran dengan penuh perhatian tanpa melewatkan satupun pelajaran pada hari itu.

Saat jam terakhir, para siswa kelas akhir tidak langsung pulang namun mereka semakin fokus untuk melakukan kerja kelompok serta mendapatkan pembimbingan pengayaan termasuk Alisya dan teman-temannya.

Emi yang melihat Putri terus mengeliat memegang perutnya membuat Emi khawatir dan mendekatinya.