Chapter 333 - Jenius Kecil "Caleb" (1/2)
Alisya berhasil sampai pada kontainer terakhir yang ia harap bisa menemukan adik Emi disana. Begitu ia membuka kontainer tersebut, bukan main terkejutnya Alisya saat melihat isi di dalam kontainer tersebut yang di penuhi oleh banyak anak-anak kecil hingga remaja meringkuk di sudut karena takut mendengar kekacauan yang ada di luar.
”Apa kalian baik-baik saja?” cahaya yang sangat minim membuatnya cukup kesulitan untuk mengenali wajah mereka satu persatu.
Setelah mendengar suara lembut Alisya, salah seorang dari mereka mencoba untuk memberanikan diri mendekat ke arah Alisya. Dengan tubuh yang gemetar ia melangkah perlahan-lahan untuk memastikan keadaan.
”Apa yang kamu inginkan?” tanya nya dengan suara gemetar yang ia coba ucapkan dengan suara tegas.
”Menyelamatkan kalian!” ucap Alisya sembari meletakkan senjata api yang ia rebut sebelumnya secara perlahan-lahan dan kemudian menendang senjata tersebut dengan sedikit jauh darinya untuk membuat mereka percaya padanya.
Melihat Alisya yang terlihat benar-benar ingin menyelamatkan mereka, membuat anak-anak itu langsung berlarian memeluk Alisya dan menangis dengan keras. Mereka dipenuhi rasa takut dan rasa syukur karena akhirnya ada yang datang untuk menyelamatkan mereka.
”Terima kasih, kau laki-laki yang hebat!” ucap Alisya kepada seorang anak laki-laki yang terlihat sudah berani melindungi anak-anak yang ada di dalam sana. Anak itu berumur sekitar 10 tahun dimata Alisya, namun keberaniannya sungguh membuat Alisya kagum.
Ia yang sebelumnya terlihat begitu tegar dan kuat langsung ikut menangis mendengar ucapan Alisya yang hangat kepadanya. Alisya tersenyum dan menaikkan kepalan tinjunya kepada anak itu yang di sambut dengan kepalan tinju kecilnya sembari terisak-isak.
”Siapa namamu?” tanya Alisya kepada anak laki-laki tersebut.
”Caleb kak!” ucapnya sembari menghapus air matanya.
”Caleb berasala dari Bahasa Arab yang berarti gagah berani. Sangat cocok dengan namamu dek!” Alisya langsung mengusap kuat rambutnya karena bangga.
”Apa ada yang bernama Hani disini?” Alisya duduk dan mengsejajarkan posisinya dengan mereka semua untuk bertanya kepada mereka yang dengan polosnya mereka menggeleng pelan.
”Belum ada lagi yang masuk kedalam ini sejak… 3 hari.” Ucap Caleb sembari menghitung jari tangannya dengan yakin.
”Kau bisa menghitungnya hanya berdasarkan saat terakhir kali kamu masuk?” tebak Alisya melihat dari caranya menghitung jarinya. Alisya merasa sedang melihat seorang Adith kecil dihadapannya.
Caleb mengangguk pelan dengan senyuman penuh kebanggaan. Dari pakaiannya, Alisya bisa tau kalau anak ini bukanlah anak biasa saja melainkan seorang anak cerdas dari keturunan orang berada. Alisya tak yakin kenapa anak itu bisa berada disana, namun Alisya berpikir bahwa mungkin saja anak itu merupakan kasus penculikan.
”Aku tak menemukan adik Emi disini, sepertinya ia masih berada di tempat yang berbeda.” Ucap Alisya kepada teman-temannya.
”Aku menemukannya, aku melihat masih ada seorang anak di salah satu mobil yang sedang di masuki oleh Bos mereka.” Ucap Karin yang terus berlari menuju kea rah parkiran mobil Bos tersebut.
”Aku dan Karin akan mencoba menghambat mereka.” Adith langsung menutup salah satu jalan dengan mengarahkan beberapa Ban besar di tengah jalan sebelum mobil tersebut mengarah kepada mereka.
”Oke, aku akan segera kesana. Hati-hati, mereka masih memiliki senjata lengkap.” Alisya langsung mengeluarkan anak-anak itu satu persatu.
”Kakak mau kemana?” tanya mereka cepat karena takut akan di tinggalkan oleh Alisya.
”Kalian tenang saja, jangan khawatir. Lihat pak polisi sudah datang untuk menyelamatkan kalian.” Alisya langsung memberikan tanda untuk beberapa anggota Ayahnya yang sudah datang untuk menyelamatkan anak-ank tersebut.
”Tapi kak…” mereka masih berusaha untuk menghentikan Alisya.
”Kamu percaya pada kakak kan? Mereka orang-orang yang bersama kakak. Jadi mereka takkan menyakiti kalian, kita akan bertemu lagi begitu kakak menemukan adik teman kakak yang tadi kakak tanyakan. Oke?” Alisya terus berusaha membujuk mereka sambil menatap ke arah Caleb berharap agar ia bisa mengarahkan teman-temannya yang lain.