Chapter 337 - Jurus Pengendalian Roboh (1/2)

”Dith.. Kamu udah selesai belum sih? Udah larut malam nih!” Alisya yang sudah terlalu lama menunggu Adith selesai mandi langsung naik ke atas mencari Adith.

Di atas ranjang Alisya melihat Adith yang sudah berpakaian lengkap namun dengan nafas yang tersengal-sengal ia terbaring menutup wajahnya.

”Kamu demam?” Alisya langsung menempelkan tangannya ke dahi Adith yang langsung dirasakan cukup panas oleh Alisya.

Adith yang kelelahan karena banyaknya urusan kantor dan sehari penuh pergi bersama Alisya untuk mengurus berbagai kelengkapan serta berbelanja hingga ia tidak memperhatikan kesehatannya yang memburuk karena kekurangan nutrisi yang masuk ke dalam tubuhnya.

”Halo ma, Adith tiba-tiba demam nih. Kotak P3K ada dimana yah?” tanya Alisya kepada ibu Adith.

”Anak itu emang kebisaan pasti dia habis mandi kan? Dia kalau seharian kelelahan trus dari matahari tuh nggak bisa langsung mandi, pasti langsung demam. Kotaknya ada lemari paling depan dekat ruang tamu Sya.” Ucap ibu Adith yang harus mengomel terlebih dahulu.

Alisya hanya tersenyum merasakan kerinduan mendapat perhatian dan omelan yang biasanya hanya akan diberikan oleh seorang ibu seperti itu.

”Malam ini kamu bisa temenin Adith dulu kan? Sekarang sudah terlalu larut buat mama balik lagi, jadi besok pagi mama kan ambil penerbangan awal.” Pinta ibu Adith sebelum mengakhiri telponnya dengan Alisya.

Alisya dengan segera mencari obat penurun demam yang sudah di beritahukan oleh ibu Adith dan juga pengukur suhu tubuh yang dengan cepat ia pasangkan pada tubuh Adith.

Karena Adith baru beranjak 18 tahun, Alisya tidak yakin untuk memberinya Aspirin karena resikonya yang bisa menyebabkan pembengkakkan dan lever sehingga ia hanya memberikan ibuprofen yang dosisnya lebih aman.

Melihat Adith yang berpakaian cukup tebal membuat Alisya dengan cepat melepaskan pakaian tebal tersebut dam membiarkan Adith memakai pakaian dalam tipisnya dan memberikan selimut tipis agar tubuhnya rileks dan untuk meningkatkan sirkulasi udara supaya Adith bisa tetap sejuk karena pakaian atau selimut yang tebal dapat memerangkap panas dan memperlama demam.

”Jika aku tahu kalau kamu tak bisa segera mandi setelah seharian di luar, maka aku akan melarangmu dengan keras tadi.” Ucap Alisya duduk di samping Adith sembari menurunkan suhu kamar Adith ke suhu 25 derajat celcius.

Suhu tinggi dapat memperpanjang durasi demam dan menyebabkan keringat berlebih yang dapat mengakibatkan dehidrasi. Beberapa saat kemudian Alisya menyeka tubuh Adith dengan air hangat untuk merangsang keringat yang menyejukkan tubuh, meningkatkan sirkulasi darah, dan mengurangi penyumbatan di hidung yang disebabkan oleh flu dan pilek.

”Ah.. sepertinya aku demam lagi.” Adith bangun setelah tubuhnya jauh lebih segar dan merasakan haus yang membuat lehernya mengering.

Setelah minum air yang sudah di sediakan oleh Alisya di meja sebelah ranjangnya, ia melihat Alisya yang sudah tertidur di bagian bawah kakinya.

”Sudah jam 2 malam, sepertinya aku memang tak bisa mengantarkanmu pulang.” Adith tak bisa menghubungi nenek Alisya karena sudah cukup larut sehingga ia memutuskan untuk menjelaskannya di pagi hari.

”Kau sudah bangun? Bagaimana dengan demammu?” Alisya tersadar dengan Adith yang sedang berusaha untuk turun dari ranjangnya. Alisya dengan cepat memegang dahi Adith dari jarak yang sangat dekat sampai Adith harus menjauh karena jantungnya yang bedetak kencang.

”Naiklah ke atas sini, lehermu pasti sakit karena tidur dengan posisi seperti itu.” Ucap Adith yang membuat Alisya langsung memerah dengan ajakan Adith.

”Kau ingin kita tidur satu ranjang? Kita belum muhrim Dith, tahan-tahan sedikit.” Goda Alisya yang membuat Adith jadi gugup.

”Dasar, aku akan berada di kamar sebelah dan kau bisa tidur dengan nyaman disini.” Ucap Adith berdiri dari kasurnya.

”Eh? Kau ingin meninggalkanku sendirian disini? Kau kan bisa tidur di sofa itu? Aku belum pernah tidur di tempat lain sebelumnya.” terang Alisya cepat tak mengira kalau Adith akan pergi keruangan yang berbeda dengannya.

Melihat pandangan Alisya yang sedang memelas kepadanya membuat Adith menuntun Alisya duduk di tepi ranjang.

”Kau tau kan aku sudah berusaha menahan diri selama berada di dekatmu? Saat ini tak ada siapapun dirumah dan jika aku terus berada disini, aku bisa goyah dan aku takkan membiarkanmu tidur untuk malam ini. Apa kamu mau?” tatap Adith kepada Alisya dari jarak yang cukup dekat dengan menunduk dan kedua tangan Adith berada di kedua sisi Alisya.