Chapter 345 - Akhir Perjuangan (1/2)
Dengan susah payah, Alisya berusaha menenangkan dirinya. Dengan menarik nafas dalam, Alisya menegakkan tubuhnya dan melangkah pasti membuka pintu gudang itu yang seketika mengingatkannya kepada sebuah kenangan saat seorang anak kecil melarikan diri dari sana.
”Hah hah hah hah.. ” Alisya bernafas berat saat melihat sekelebat bayangan itu hampir menabraknya ketika anak itu keluar.
”Alisya, apa yang terjadi padamu?” Tanya Karin khawatir dengan kondisi Alisya yang terlihat sangat tersiksa.
”Karin, sepertinya nona sedang menghadapi traumanya sekarang. Biarkan saja dia, sudah saatnya untuk dia menghadapi hal tersebut.” Ryu segera menghentikan Karin untuk membiarkan Alisya mengatasi kelemahannya.
Menekan dadanya dengan kuat, Alisya kembali melangkah masuk kedalam.
”Selamat datang, akhirnya kita bisa reuni juga yah!” Ucap Artems yang berdiri tak jauh dari Adith yang terus menggeleng tak ingin Alisya berada disana.
”Adith..” tatap Alisya kepada Adith yang masih terikat kuat. Lilin kecil yang membakar tali yang cukup besar itu sudah tak berada disana lagi.
”Apa yang sedang dikatakan oleh orang itu? Kenapa ia mengatakan reuni?” Gumam Karin sembari memandang ke arah Ryu yang juga terlihat bingung.
”Dulu saat usiamu masih 8 tahun, kau dengan begitu berani kau melawan puluhan anjingku untuk menyelamatkan anak ini. Dan sekarang kau juga berusaha untuk menyelamatkan dia? Sungguh dramatis sekali hahahahah” tawa Artems seketika menggetarkan tubuh Alisya lebih hebat.
Adith tampak memberontak tak ingin Artems untuk melanjutkan lagi kata-katanya.
”Apa maksudmu?” Tanya Alisya dengan kepala yang berat. Energi nano dalam tubuhnya mulai kacau dan tak menentu membuat tubuhnya memanas dengan cepat.
”Hah? Melihat reaksimu kau sepertinya lupa akan sesuatu, bagaimana dengan ini?” Artems lalu menyeret sebuah tongkat golf secara perlahan-lahan yang setiap langkah ia hentakkan dengan keras menuju ke arah Adith.
”Arrrgggghhhh” Adith menggeram keras saat Artems melayangkan tongkat tersebut ke paha Adith dengan keras yang kembali mengalirkan darah pada bekas tembakannya.
”Hentikan!!!!” Teriak Alisya yang langsung melangkah ingin menghentikan Artems.
Namun baru saja dua langkah, Ryu dengan cepat menarik kerah baju Alisya kebelakang yang akhirnya sebuah padang hanya menggores tipis lehernya. Jika saja Ryu tak menarik Alisya, maka tentu saja pedang tersebut berhasil menebas leher Alisya.
”Kau kehilangan fokusmu, sampai kau tidak berhati-hati.” Tegas Karin mengingatkan Alisya untuk tenang.
”Berpikirlah tenang nona, jangan bergerak gegabah.” Pinta Ryu yang langsung berdiri dihadapan Alisya untuk waspada saat melihat 5 orang termasuk Omega keluar dari sana.
Dan Omegalah yang melayangkan pedang tersebut kepada Alisya dengan maksud untuk benar-benar membunuh Alisya.
”Apakah kau sudah mengingatnya?” Pancing Artems sekali lagi sambil memukul-mukul tepi tiang besi menggunakan tongkat golfnya.
Alisya menggenggam tangannya dengan erat lalu memukul kepalanya dengan karena sakit. Alisya menggeram keras saat semua memori menyakitkan Itu kembali merangsang otakknya dengan kuat.
”Alisya… Alisya… Alisya!!! Sadarlah..” Karin terus berteriak kencang memanggil-manggil nama Alisya yang masih menggeram keras dengan mode shocknya.
Energi nano Alisya meledak dengan keras gelombang kejut yang sangat dahsyat hingga melemparkan tubuh Karin dan Ryu dari dekat Alisya.
Alisya terlihat mengalami perubahan besar dalam dirinya dengan nafsu membunuh yang sangat besar.
”Jadi karena Adith semua kemalangan dalam hidupku terjadi? Penyebab kau menculikku adalah karena aku berhasil menyelamatkan Adith saat itu. Dan karena itu pula aku harus menjadi monster seperti ini dan kehilangan seorang ibu serta tak bisa merasakan hidup normal?” Setiap kata-kata yang dikeluarkan oleh Alisya seketika membuat Adith menitikkan air matanya.
Adith menangis mendengar Alisya menyalahkan dirinya atas apa yang menimpanya selama ini. Adith sudah menduga kalau reaksi Alisya akan seperti itu, namun tetap saja hatinya pilu saat melihat tatapan penuh kebencian yang diarahkan kepada dirinya.
””Dia akhirnya menampakkan dirinya yang sebenarnya sekarang. Inilah yang aku tunggu-tunggu selama ini, membunuhmu dengan kemampuan mu yang sebenarnya.” Omega langsung melesat menyerang Alisya namun Alisya menghilang dalam kegelapan.
”Hahahahaha, rasanya aku belum puas jika tidak membunuh kalian berdua. Bagaimana kalau kita mulai dari dia dulu?” Bisik Artems kepada Adith dengan penuh kelicikan.
Adith menatap Artems dengan penuh amarah. Orang yang selama ini telah membuat hidupnya dan hidup Alisya penuh akan penderitaan.
”Uaahh..” salah seorang dari mereka berlima terlempar dari kegelapan dengan tubuh yang terkoyak-koyak.
”Alisya.. umpphh” Ryu langsung berlari menutup mulut Karin dengan cepat.
”Sussst” ucap Ryu agar Karin tetap diam.
”Apa yang kau lakukan? Alisya sedang..” Ryu menghentikan Karin untuk berbicara.
”Saat ini dia sudah bukanlah Alisya, melainkan mesin pembunuh yang akan membunuh siapapun yang menghalanginya.” Karin yang tak setuju langsung memegang pundak Ryu karena ingin marah.
”Kau?” Karin terkejut melihat ekspresi penuh waspada Ryu yang tak bisa berhenti bergetar dengan hebat karena takut. Ryu bisa merasakan bagaimana menakutkannya Alisya saat itu sehingga Karin mulai paham apa yang dimaksudkan oleh Ryu.