Chapter 488 - Jangan Takut (1/2)
Melihat Apa yang dilakukan oleh Rinto dan Jati membuat pria berjas hitam tersebut merasa marah dengan apa yang mereka lakukan. Bukan hanya karena menghentikan anak buahnya untuk membawa Yani pergi namun juga karena telah menghajar anak buahnya.
”Oy… siapa mereka? Kenapa mereka menghalangi kami dan menghajar anak buahku?” Tanya Pria berjas hitam tersebut dengan sangat marah kepada Ayah Yani.
”Sial, kenapa pria yang bersama Yani tadi ikut campur sekarang.” Batin Ayah Yani merasa kesal dengan kedatangan Rinto dan Jati.
”Apa yang kau inginkan mengapa kau ikut campur dalam urusan kami? Dia itu barang milikku jadi aku bebas melakukan apapun kepadanya. Lagipula apa hakmu untuk ikut campur dengan urusan kami?” Ayah Yani sengaja mengatakan hal yang bisa membuat Rinto berpikir lain kepada Yani. Dia sengaja untuk memprovokasi Rinto sehingga ia akan merasa telah salah dalam mencampuri urusan Yani.
Rinto sedikit kesal mendengar orang tua itu menyebut Yani seolah bagaikan batang yang bebas ia kendalaikan.
”Sebaiknya kau pergi dari sini anak muda, jika kau salah dalam ikut campur urusan orang lain, kau akan benar-benar dalam masalah.” Ucap pria berjas hitam mengingatkan Rinto.
”Tidak usah pedulikan mereka, pria itu hanyalah orang yang sudah tidur dengannya. Kalian bisa melakukan apapun pada mereka.” Ucap Ayah Yani dengan santai dan acuh tak acuh. Dia tidak peduli terhadap apa yang akan terjadi kepada mereka semua.
”Cih, aku pikir siapa mereka yang telah berani ikut campur dalam urusan ku. Ternyata hanya orang yang tidak puas dengan pelayanan perempuan itu.” Ucap pria berjas dengan sangat menghina.
”Aku adalah calon suaminya, dan karena dia adalah calon istriku maka aku berhak untuk ikut campur dalam urusan ini.” Ucap Rinto dengan sangat tegas kepada ayah Yani.
Meski Yani tahu bahwa kalimat itu hanyalah untuk menyelamatkannya, Yani merasakan sedikit kepedihan di dalamnya. Entah kenapa dia benar-benar sangat mengharapkan hal itu terjadi dan apa yang dikatakan oleh Rinto adalah sebuah kebenaran.
”Hahhh? Puhahahaha memangnya kenapa kalau kau calon suaminya? Hanya dengan hal itu tidak akan berarti kau bisa memiliki hak padanya.” Ucap Ayah Yani dengan tertawa terbahak-bahak.
Rinto merasa curiga dengan orang yang berada di hadapannya tersebut, Dia terlihat seolah memiliki kekuasaan penuh terhadap Yani mengingat apa yang dikatakan olehnya sebelumnya. Karena itu Rinto sedikit berbalik ke arah Yani yang berada di belakangnya.
”Apa yang sedang terjadi sebenarnya? Mengapa mereka melakukan ini padamu?” Rinto sudah mendengar beberapa bagian mengenai apa yang terjadi, namun ia memilih bertanya kepada Yani agar ia bisa mendapatkan penjelasan yang lebih rinci darinya.
Yani tidak bisa berkata apa-apa, meskipun sangat membenci ayahnya, dia tidak bisa mengatakan yang sebenarnya kepada Rinto. Yani takut kalau Rinto mengetahuinya maka dia juga akan menjauhinya sama seperti dengan pria-pria sebelumnya.
”Ayahnya memiliki hutang yang sangat banyak kepada kami, dan kami akan melunasi hutangnya dengan menyerahkan tubuh anaknya itu. Bukankah itu adalah kesepakatan yang sangat memudahkan?” Jawab pria berjas tersebut sembari tertawa dengan sangat keras.
Merasakan amarah yang sangat membara mendengar apa yang dikatakan oleh pria berjas hitam tersebut, Rinto langsung melakukan tendangan berputar yang membuat pria berjas itu jatuh tersungkur membentur dinding dengan sangat keras.
Pria itu langsung tidak sadarkan diri dengan posisi tubuh yang terlihat mengalami patah bagian leher. Hal itu segera mengundang banyaknya preman yang berada di sekitar sana untuk menghampiri mereka.
”Maaf karena sudah memperkeruh permasalahannya sekarang.” ucap Rinto kepada Yani dengan penuh rasa bersalah. Dia memundurkan langkahnya beberapa langkah mendekati Jati dan Feby.