Chapter 505 - Hubungi Pria Itu (1/2)

Yani tidak merasakan apapun ketika melihat Ayahnya yang tampak babak belur dengan wajah yang sudah tidak bisa dikenali lagi karena dipenuhi darah dan memar di seluruh wajahnya. Yani hanya memikirkan bagaimana cara untuk ia dapat menyelamatkan ibunya dan adiknya secepatnya.

”Aku tak peduli dengan apa yang kau lakukan pada Ayahku, tapi lepaskan ibu dan adikku. Aku bersedia untuk menggantikan mereka berdua dan melakukan apapun yang kamu inginkan.” Yani mencoba untuk bernegosiasi dengan pria tersebut.

”Kau pikir dirimu bisa menggantikan kerugian yang aku dapatkan?” Pria itu memegang dagu Yani dengan kasar dan menghempaskannya dengan sangat kuat hingga yani kembali terjatuh dilantai.

”Uang serratus juta itu mungkin saja cukup untuk menggantikan kamu dan adikmu ini, tapi kerugianku terhadap banyaknya anak buahku yang mati tentu saja hal ini tidak cukup. Selain itu, pria yang sudah menyelamatkanmu malam itu tentu saja harus membayar semua ini dengan sangat mahal.” Terangnya lagi dengan setengah tertawa sembari menghadapi Yani dengan teduduk dihadapannya.

”Rinto? Apa yang kau ingin lakukan padanya? Semua ini tak ada hubungannya dengannya. Tidak usah melibatkan pria itu, dia sama sekali tak tahu apapun yang terjadi.” Bentak Yani ketika mendengar pria itu menyinggung Rinto.

”Plakkkk!” tampar pria itu kepada Yani dengan sangat keras hingga membuat pipi Yani memerah dan matanya berair menahan rasa sakit yang tak terkira.

”Kau pikir aku akan membiarkannya begitu saja setelah semua yang sudah ia lakukan padaku? Beraninya dia mempermalukanku di hadapan semua orang hingga aku harus mendapatkan penghinaan dari mereka semua.” Bentaknya dengan sangat kasar hingga membuat telinga Yani berdengun dengan sengat kuat.

”Apa yang kau inginkan sebenarnya, bukankah kau sudah mendapatkan apa yang kau inginkan dengan seluruh keluargaku yang sudah berada di tanganmu hah?” Yani masih terus berusaha menentangnya dengan semua yang sudah di lakukannya.

”Hubungi Pria itu.” Perintah Pria tersebut dengan menyodorkan hanphone miliknya, meminta Yani untuk menghubungi Rinto.

Yani terdiam dan tak berniat untuk menghubungi Rinto, dia tidak ingin Rinto terjebak dalam urusannya yang kemudian membuar Rinto dalam bahaya. Meski sangat ingin menyelamatkan ibu dan adiknya, dia tidak mungkin membuat orang lain dalam bahaya. Selain itu, pria dihadapannya ini hanya akan membunuh Rinto dan takkan melepaskan mereka meski apa yang di inginkannya sudah terkabulkan.

”Tidak, aku tidak akan menghubunginya.” Ucap Yani dengan sangat tegas dan eskpresi tajam penuh keyakinan.

”Sepertinya kau sudah salah paham, aku bukannya sedang membuat permintaan padamu sekarang, tetapi aku sedang membuat sebuah perintah padamu. Kau pikir aku takkan segan padamu hanya karena aku menyukaimu? Kau salah besar.” Pria itu berdiri dan menghampir mejanya lalu mengambil sebuah pistol dari atas mejanya.

”Aku paling tidak suka jika apa yang aku katakana di langar dengan sangat mudah.” Lanjutnya lagi lalu mengangkat senjatanya kemudian ia arahkan pada seseorang.

”Dorrrrr…!” sebuah tembakan melesat melewati dirinya yang langsung membuatnya terkejut bukan main. Jika pria itu tak menembak Yani, maka ada dua orang yang saat ini berada di belakangnya, yaitu ibu dan Ayahnya.

Dengan tubuh yang bergetar dan mata yang terbuka lebar, Yani menoleh kebelakang secara perlahan-lahan untuk memastikan siapa orang yang telah ditembak oleh pria tersebut. Meski sangat terkejut ketika melihat Ayahnya lah yang tertembak oleh pria tersebut, Hati Yani sedikit merasa legah karena ibunya masih baik-baik saja. Akan tetapi, melihat Ayahnya yang mati dengan cara seperti itu membuat Yani tidak bisa untuk tidak menitikkan air matanya.

”Kau tidak akan tahu siapa orang berikutnya yang akan aku rahakan dengan senjata ini, jadi sebaiknya kamu mengambil keputusan baik-baik. Jangan sampai hanya karena ingin menyelamatkan satu orang pria, kau harus kehilangan mereka semua.” Ucapnya pria itu sembari membersihkan senjata yang tidak kotor sama sekali.