Chapter 518 - Aku Serius (1/2)

”Kamu sudah bangun?” tanya Alisya kepada Yani yang tampak terbangun dari tidurnya.

Yani hanya mengangguk pelan dan tak menjawab, dia melihat kepada Alisya dengan wajah penuh pertanyaan sebab tempat sesaat sebelum ia tertidur kini sangat jauh berbeda dengan tempat setelah ia terbangun dari tidurnya.

”Kita di pesawat!” ucap Alisya dengan nada lembut kemudian terduduk di sebelah Yani. Mendengar apa yang dikatakan oleh Alisya, Yani dengan seketika meronta melopmpat dari atas kasurnya.

Yani menggeleng dengan sangat kencang seolah ia tak ingin pergi. Dia tidak ingin meninggalkan ibu dan adiknya sehingga ia tampak sangat marah kepada Alisya, yang kemudian tampak melarikan diri mencari tempat untuk keluar.

”Yani, dengarkan aku dulu!” Tarik Alisya yang hanya di tepis oleh Yani dengan penuh amarah.

”Yani! Hentikan, apa yang kau lakukan?” Alisya terus berusaha menghentikan Yani yang tampak meronta dalam diam terus menyusuri kabin pesawat pribadinya yang sedikit membuat Alisya panik dengan tingkahnya.

Rinto dan yang lainnya segera mendatangi sumber suara keributan, dan menemukan Alisya yang sudah mendekap Yani yang akan membuka pintu itu dengan terburu-buru. Alisya bisa saja membuatnya terdiam, tapi dia sengaja membiarkan Yani melampiaskan amarahnya karena sudah membawa dirinya pergi tanpa meminta izin terlebih dahulu.

”Apa yang terjadi? Mengapa dia sampai semarah ini?” tanya Rinto melihat Yani yang memberontak dalam diam. Tatapan matanya hanya tertuju pada pintu pesawat tersebut, yang kemudian membuat Alisya memeluknya dengan erat.

”Maafkan aku! Aku minta maaf karena sudah membawamu tanpa Izin, Maafkan aku!” suara lembut Alisya yang terdengar begitu tulus membuat ia sejenak melemah dan luluh. Meski ia sangat marah saat ini, tak ada hal yang bisa ia lakukan selain memukul Alisya dan mendorongnya hingga jatuh.

Tatapan Yani yang penuh kebencian membuat hati Alisya sedikit pedih, namun ia berusaha untuk memaklumi dirinya. Karena dialah yang salah dan memang seharusnya meminta izin darinya terlebih dahulu sebelum membawanya, namun jika ia melakukan hal tersebut pun, tentu saja ia takkan mendapatkan izin dari Yani.

Yani yang terdiam membatu tak menyangka kalau ia sudah mendorong Alisya dengan cukup keras akhirnya kembali ke kamarnya dan menutup pintu kamarnya. Rinto hanya melihat dengan tatapan sedih apa yang sedang terjadi.

”Kau baik-baik saja?” Karin datang menghampiri Alisya yang terjatuh di bawah.

”Aku baik-baik saja. Setidaknya amarah yang dia keluarkan memang semua karena salahku!” ucap Alisya tersenyum dengan kecut. Bukan karena merasa sedih dengan apa yang dilakukan oleh Yani padanya, namun karena melihat Yani begitu marah ketika mengetahui mereka sedang berada di atas pesawat saat ini.

”Tidak apa-apa, ini hanya masalah waktu sampai ia benar-benar tenang dan bisa menerima semua ini. Kedepannya kalian akan sedikit kesulitan saat menanganinya, tapi aku harap kalian tidak akan menyerah karena saat ini ia akan sangat rentan terhadap beberapa hal.” Terang Karan menyemangati mereka semua agar menjadi lebih bersabar dalam menghadapi Yani.

”Sebentar lagi kita akan sampai, aku tak yakin dia akan membukakan kita pintunya atau tidak. Tapi sebaiknya untuk berjaga-jaga aku akan menyediakan kunci akses agar kita bisa masuk meski ia telah menguncinya dari dalam.” Ucap Ryu segera mencari kunci akses kamar yang sedang di tempati oleh Yani.