62 Bab 61 : Maafkan Aku (1/2)

”Ding! Sebuah pesan diterima.”

Suara notifikasi pesan dari helm animasi membangunkan Daniel dari fokusnya mengedit animasi yang dia buat. Dia mengklik dan muncul pesan : ”Kak, ada seseorang yang ingin bertemu Kakak.”

”Siapa yang datang mengunjungiku di malam hari?” gumamnya. Ia bingung karena sangat jarang sekali ada orang selain Lia Siyu yang datang berkunjung ke rumahnya di malam hari.

Karena dia tak tau siapa itu, ditambah lagi dia masih memiliki sedikit yang perlu di edit, dia mengirimkan pesan, ”Aku akan segera datang, masih ada sedikit hal yang kulakukan.” kemudian dia menekan tombol kirim dan melanjutkan lagi mengedit animasinya.

....

”Ayah, apa yang akan kamu lakukan ketika kamu membalas perbuatan baik seseorang dengan sikap yang buruk?” tanya seorang gadis pada Ayahnya yang sedang menonton TV.

Sang ayah mengerutkan keningnya ketika mendengar pertanyaan putrinya. Tapi, setelah beberapa saat, wajahnya kembali normal lagi. Dengan senyum lembut di wajahnya, sang ayah berkata, ”Tentu saja Ayah akan berterima kasih padanya lalu meminta maaf padanya karena telah bersikap buruk. Kemudian, Ayah akan membawakannya hadiah sebagai tanda permintaan maaf yang tulus.”

Mata gadis itu cerah setelah mendapatkan jawaban positif dari Ayahnya. Ia berkata, ”Terima kasih, Ayah. Aku sayang Ayah,” kemudian dia mencium pipi Ayahnya dan pergi dengan wajah bahagia.

”Gadis ini....” sang Ayah menghela napas, lalu tersenyum kepada putrinya. Ia mengambil sebuah foto di sampingnya. Di foto itu ada seorang laki-laki tampan, lalu wanita cantik yang lembut, dan seorang anak perempuan dengan senyum lebar di wajahnya. ”Sayang, Bella sekarang sudah besar dan semakin dewasa,” gumamnya sambil mengusap-ngusap foto dengan lembut.

....

”Pak, kita berhenti di toko pakaian. Mau beliin sesuatu buat teman,” kata Bella dengan semangat kepada Pak Bram. Pak Bram juga ikut bahagia melihat ekspresi semangat Bella. Setelah kejadian percobaan penculikan, Bella tak pernah sebahagia ini. Dia selalu murung, apalagi saat membicarakan kejadian itu.

Dengan senyumnya yang lembut, pak Bram berkata, ”Baik, Nona.”

Tak lama kemudian, keduanya berhenti di sebuah toko pakaian disamping toko pakaian wanita yang pernah Bella kunjungi bersama Daniel. Meskipun tempat ini berdekatan dengan tempat yang mengingatkannya pada kejadian penculikan, tapi dia menyisihkan kenangan itu karena kenangan dia bersama Daniel memilih sweter lebih besar daripada kenangan tentang penculikan.

Dia masuk ke toko lalu ke bagian sweater. Ia menghampiri pelayan untuk menanyakan sweater yang sama dengan apa yang dipakainya.

”Ini, Nona. Ini sedikit berbeda dengan apa yang dikenakan oleh Nona, tapi ini adalah sweater bagus buat seorang cowok,” kata pelayan menjelaskan. ”Apakah Nona membeli ini untuk pacar Nona?” tanya pelayan itu dengan senyuman.

Bella tersipu malu mendengar pertanyaan pelayan toko. Ia menggelengkan kepalanya, tapi pelayan itu malah menganggukkan kepalanya sambil bergumam, ”Anak muda sekarang malu-malu kucing.”

”Aku memilih ini,” kata Bella menunjuk pada sweater berwarna abu-abu yang mirip dengan apa yang dia kenakan. Setelah Bella mengatakan itu, pelayan toko itu langsung membungkusnya. Bella mengikuti pelayan itu lalu membayar sweater itu. Bella kemudian memasuki mobil dan menuju villa Daniel.

....

Rika sedang belajar di kamarnya, tapi saat dia pergi ke dapur untuk mengambil minuman, dia mendengar seseorang menekan bel villa. Dia kemudian membuka pintu dan menemukan ada Bella di sana.

”Kak Bella! Masuk, Kak,” ajak Rika masuk ke villa. ”Ada apa Kakak datang malam-malam begini?” tanya Rika.

”Ingin menjenguk Daniel, sekaligus berterima kasih padanya,” jawab Bella. ”tapi, bisakah kamu merahasiakan kalau orang yang datang itu adalah aku? Kumohon,” lanjut Bella.