Chapter 22 - Mereka berdua Mirip (1/2)

Dari GPS yang melacak IP yang berada pada telinga Alisya, tampak bahwa Alisya berada pada Jalur yang searah dengan perginya rombongan penjahat, pemotor serta orang-orang yang ber jas hitam tadi. Adith terus berdoa dalam hati semoga Alisya baik-baik saja namun ia tak bisa berhenti memikirkan bahwa mungkin saja Alisya telah di culik oleh mereka.

Adith mengejar menggunakan mobil sport mewahnya melewati padatnya kendaraan perkotaan. Dari jauh ia masih bisa melihat mobil yang di kendarai oleh orang-orang berjas hitam tersebut. Dengan seketika ia Menginjak gas mempercepat laju mobilnya mengejar. Dati jauh Adith melihat bahwa lampu merah sebentar lagi akan menyala. Ia memasang persenelan lalu menginjak Gas memacu mobilnya lebih cepat agar bisa melewati lampu merah.

Lampu merah menyala dan dengan jarak yang cukup dekat beberapa orang pejalan kaki akan menyebrang. Adith dengan sigap menginjak rem dan menarik rem tangan sehingga mobilnya berputar 360 derajat sekali lalu dengan mulus terparkir di sisi jalan. Beruntunglah di tempat nya berhenti mobil lain belum ada sehingga tabrakan pun terhindarkan.

Adith menghela nafas dalam lalu membuka kaca jendela dan meminta maaf. Meski berhati dingin, Adith sangat menghargai nyawa orang lain. Para pejalan kaki sempat merasa kaget dan marah namun begitu melihat bahwa itu Adith beberapa wanita berteriak kagum sedang laki-laki hanya bisa terdiam sambil berlalu pergi.

”Sekali lagi lacak lokasi Alisya” Perintah Adith kepada GPS pada Handphonenya yang bertekhnologi tinggi.

Melihat ke peta yang ditampilkan oleh GPS, tempat dimana Alisya berada sudah menuju kerumah neneknya. ia bingung namun kemudian memacu mobilnya menuju ke arah yang sama untuk memastikan begitu lampu hijau menyala.

Sesampainya di pintu rumah nenek Alisya, Adith membuka mobilnya dan akan menyerbu masuk sebelum akhirnya ia mendengar bunyi motor dibelakangnya. Adith sangat terkejut melihat Rinto sudah memboncengi Alisya sedang pada GPS harusnya ia sudah berada di rumah neneknya bukannya berada di belakangnya.

”Bagaimana bisa kamu bersamanya??? ” Adith yang marah langsung menggenggam lengan Alisya dengan kuat.

”Ummhhh, Adith aku tadi di selamatkan oleh Rinto sewaktu kamu masih mengambil mobil mu! Aku tidak bisa bertahan lebih lama disana... untunglah Rinto datang tepat waktu” Alisya menjelaskan dengan sedikit menahan sakit. Mendengar hal itu Adith melonggarkan pegangannya.

”Maafkan aku, aku hanya khawatir kamu dalam bahaya” Ucap Adith setelah melepaskan genggamannya.

”Para penembak tadi sepertinya mereka adalah begal atau teroris yang akhir-akhir ini berkeliaran! Mereka sudah seringkali melakukan penembakan salah sasaran. sebaiknya kamu berhati-hati” Terang Rinto mengingatkan Adith.

”Kau tak perlu mengkhawatirkan aku! ” Nada Adith tampak memberikan tantangan kepada Rinto.

”Aku hanya mengingatkan mu! ” Tambah Rinto pasrah.

”Dimana Yogi dan Karin? kenapa mereka tak bersamamu? ” Adith bertanya setelah mengingat kalau mereka tadi bersama.

”Yogi sudah mengantarkan Karin kerumahnya” Alisya menengahi ketegangan di antara keduanya.

”Mereka berdua baik-baik saja! ” timpal Rinto.

”Kalau begitu kamu masuklah Alisya, aku akan menyuruh beberapa pengawal mengawasi rumahmu untuk malam ini. aku juga akan menyelidiki kejadian malam ini untuk memastikan saja”Adith masih belum bisa menghilangkan rasa khwatirnya.

”Sebenarnya aku tak masalah! Tapi kamu harus mengobati lukamu terlebih dahulu” Alisya khawatir dengan darah segar yang mengalir di tangan kiri Adith.

”Aku baik-baik saja! ini cuma luka kecil” Adith meyakinkan Alisya mengenai kondisinya.

”Masuklah biar aku coba obati, aku punya peralatan P3K di dalam rumah nenek” Alisya mendorong tubuh Adith memasuki pagar rumahnya.

”Hati-hati dijalan! Terima kasih sudah mengantarku” Ucap Alisya kepada Rinto.

”Tidak masalah! aku pulang dulu” Rinto segera memacu motor hitam besarnya.

Adith berpikir kalau Motor hitam dan jaket yang dikenakan oleh Rinto sedikit mirip dengan motor yang dikenakan oleh orang yang di sebut tuan Ali tadi. Namun motor dengan jaket seperti itu cukup banyak yang menggunakan nya, selain itu ia tidak begitu jelas melihat ciri-ciri si pemotor tadi jadi dia tidak bisa menarik kesimpulan begitu cepat.

”Masuklah...” Suara Alisya membangunkan Adith dari lamunannya.

”Permisi... ” Suara Adith cukup pelan takut membangunkan nenek Alisya.

”Beri salam yang benar!” Nenek Alisya menggetok kepala Adith menggunakan sendok sup plastik yang dalam.