Chapter 99 - Sahabat Kampret (1/2)
Elsa berlari dengan sangat cepat membuat jarak yang kembali melebar antara dirinya dengan Yogi namun Yogi masih bisa terus menyusul mempersempit jarak yang ada. Saat melihat Alisya yang telah siap, Elsa menatap tajam dan mempercepat langkahnya dengan ceroboh sehingga tanpa sadar kakinya tersendung dan hampir terjatuh.
”Kau tidak apa-apa? usaha yang bagus!” Adith dengan sigap menangkap Elsa yang hampir terjatuh kemudian mengambil tongkat dengan lembut.
Melihat reaski Adith yang begitu cepat menangkap Elsa dan bersikap mesrah membuat hati Alisya panas. Yogi tiba tepat setelah Adith melepas pelukannya pada Elsa yang dengan cepat Alisya mengambil tongkat dari tangan Yogi. Alisya dan Adith mulai berlari secara bersamaan setelah mendapatkan tongkat di tangan mereka.
Melihat ekspresi kesal diwajah Alisya Adith tersenyum nakal dan terus memacu kecepatannya melewati Alisya. Adith merasa puas sudah mengacaukan hati Alisya sehingga kecepatan Alisya menjadi tidak teratur yang membuat Adith bisa dengan mudah menang tipis darinya.
”Luar biasa!!! Alisya bisa mengejar Adith dengan jarak sepersekian detik???” teriak seorang guru yang sudah tegang menyaksikan dari tadi.
”Alisya ternyata tidak bisa di anggap remeh!” seorang siswa dari penonton berteriak riuh menyaksikan pertandingan seru itu.
”Ada apa dengan Alisya? kenapa kecepatan larinya sangat kacau dan tak teratur?” Rinto kaget menatap Karin dan Yogi bergantian.
”Apa yang terjadi???” tanya Karin begitu Alisya mendekat kearah mereka.
”Sepertinya Adith sengaja memeluk Elsa untuk mengacaukan perhatianku!” Alisya memegang tongkat estafet dengan sangat erat sampai terdengar suara retakan dari tongkat yang terbuat dari besi berongga tersebut.
”Dia bisa menggunakan trik se licik itu?” tanya Yogi heran tak percaya.
”Masa sih?” Adora tak yakin dengan apa yang dikatakan oleh Alisya.
”Ayo kita ikuti permainannya!” Alisya menyeringai licik. Melihat itu Karin yakin akan melakukan hal yang lebih licik lagi dibanding dengan apa yang di lakukan oleh Adith.
Alisya tampak mengambil kapur yang biasa digunakan agar cengkraman tangan para atlit tidak licin lalu menaruhnya ke kepalanya. Ia kemudian berjalan menuju ke arah Zein.
”Ternyata kamu cukup atletis juga yah... kamu juga cukup perhatian dengan mengambilkan minuman untuk teman-temanmu!” Alisya menghampiri Zein yang sedang menaruh botol minuman kedalam kotak pendingin.
”Aku malah takjub denganmu, aku kaget melihat kamu bisa menyamai kecepatan Adith dengan mudah!” puji Zein tulus kepada Alisya.
”Terimakasih banyak, aku jadi tersanjung!” Alisya menunduk malu melingkarkan rambutnya ketelinganya memperlihatkan leher putih mulus dengan tahi lalat dilehernya yang berbentuk bintang.
”Sebentar!” Zein tampak mengambil handuk putih yang masih bersih.
”Ada apa?” tanya Alisya bingung.
”Rambutmu putih karena kapur, biar aku bantu bersihkan!” pinta Zein langsung menaikkan handuk kecil itu mulai membersihkan kapur dari kepala Alisya.