Chapter 203 - Mundurlah Bu (1/2)

”Alisya,,, ayah tau kamu masih disana. Sadarlah sayang!!!” teriak ayahnya mencoba untuk menarik kesadaran Alisya kembali.

”Quenby,,, ini nenek sayang! kita pulang yuk!” nenek Alisya berusaha mendekati Alisya yang masih berada disekitar anggota ayah Alisya yang meringis kesakitan karena tangannya yang patah.

”Tahan tembakan kalian, serahkan dia pada kami. Biar kami menenangkannya!” Alisya bereaksi saat beberapa pasukan tambahan datang mengelilingi Alisya.

”Quenby ..” nenek Alisya semakin mendekat kearah Alisya yang berdiri dengan nafas terengah engah. Bobot tubuhnya yang tampak berisi karena Volume ototnya yang sedikit membesar membuat neneknya terlihat kecil di hadapan Alisya.

Tidak merasakan adanya bahaya dari nenek Alisya, Alisya bereaksi dengan pelan mundur dari posisinya. Namun karena sudah terlalu dekat, dan terpojok Alisya langsung melayangkan pukulan yang dengan cepat ayah Alisya melompat untuk menyelamatkannya.

”Alisya... sampai kapan kau akan membiarkan dirimu dikendalikan seperti itu?” Adith berteriak dan marah kepada Alisya. Alisya kaget dan melihat ke arah Adith dengan tatapan kebencian. Aura Alisya yang sangat tajam cukup mengganggu indra penciuman Adith. Namun ia melepaskan diri dari bahu Riyan dan Zein kemudian berjalan mendekati Alisya.

”Aku tau kau bisa mengendalikannya!” kali ini suara Adith terdengar lembut. Alat peredam Alisya yang sudah tidak berada di telinganya membuat Alisya dengan jelas bisa mendengar ritme jantung Adith.

Ritme jantung Adith yang terdengar ditelinganya mengacaukan pendengarannya. Melihat itu Adith kemudian maju secara perlahan lagi untuk menarik perhatian Alisya. Bau aura Alisya perlahan berkurang meski masih tetap pekat. Merasa ada yang aneh, Adith melangkah lagi lebih dekat kepada Alisya.

”Bukankah kau sudah berjanji padaku untuk tidak membuatku khawatir? Ingat bagaimana kau juga sudah berjanji untuk tidak terluka?” ucap Adith terus berusaha menarik kesadaran Alisya.

Alisya semakin gusar mendengar ritme jantung Adith dari jarak yang semakin dekat karena Adith memperpendek jarak diantara keduanya. Melangkah perlahan-lahan untuk terus mendekati Alisya.

”Adith itu berbahaya... ” Ayah Alisya mencoba untuk mengingatkan Adith.

Melihat perubahan tingkah laku dari Alisya, nenek Alisya menghentikan Ayah Alisya untuk memberikan kesempatan bagi Adith mencoba menenangkan Alisya.

”Kau ingat lagu yang sering kita nyanyikan bersama?” Adith sekarang berada semakin dekat dengan tubuh Alisya yang kemudian dengan lembut mendendangkan lagu I love You 3000 dengan nada yang sangat romantis.

Alisya kaget saat Adith berhasil menyentuh tangan kananya, yang dengan cepat dia menaikkan tinjunya ke wajah Adith. Adith hanya terdiam tak bergeming dari tempatnya dan hanya menatap lurus saat kepalan tangan Alisya sudah berada tepat diwajahnya.

”A... Adith,,,” suara serak Alisya memanggil nama Adith disaat tangannya menghalangi pandangan Adith. Setelah Adith melihat dengan jelas, ternyata tangan kanan Alisya menghentikan tangan kirinya yang ingin melesat meninju wajah Adith.

”Kau baik-baik saja?” tanya Adith lembut dengan tersenyum hangat seolah tidak terjadi apa-apa. Adith langsung memeluk tubuh Alisya dengan hangat yang perlahan membuat tubuh Alisya melemas dan jatuh pingsan dalam pelukan hangat Adith.

Alisya yang sudah mengeluarkan energi terlalu banyak membuatnya jatuh melemas. Adith merasakan panas ditubuh Alisya yang mengeluarkan uap dan suhu yang cukup tinggi namun tetap berusaha memeluknya terus dan tak melepaskannya. Hingga tubuh Alisya kembali ke ukuran normalnya.

Volume otot Alisya yang sebelumnya membesar perlahan menyusut dan menguap ke udara sedang ekspresi wajah Alisya kembali terlihat lebih tenang dalam dekapan Adith namun air mata Alisya mengalir deras di pipinya. Alisya sedang bermimpi tentang bagaimana ia melihat Karin yang sebelumnya lehernya tergerek ternyata dalam keadaan baik-baik saja dan Adith yang dia pikir mati karena memuntahkan darah dihadapannya juga ternyata baik-baik saja dan sedang memeluknya dengan hangat saat ini.