Chapter 242 - Pemanasan (1/2)
Setelah selesai melakukan serangan pertama dan mereka berhasil memasukkan bola kedalam keranjang di kelompok Adith dan Karin, kepercayaan diri mereka meningkat tajam yang membuat mereka yakin bahwa Adit dan yang lainnya bukanlah sesuatu yang dapat dijadikan sebagai tandingan mereka.
”Hebat,,, caramu melakukan shooting itu sangat keren Dewa”ucap salah seorang dari mereka memuji pria yang posisinya berhadapan dengan Arka.
”ternyata apa yang dikatakan oleh orang lain itu tidak benar kalian sama sekali bukanlah tandingan bagi kami.” ucap Dewa dengan membuang tawanya yang masih meremehkan.
”Riamo, apakah kamu sudah siap untuk melakukan teknik terbaikmu? aku rasa kau tidak perlu menahan diri lebih lama lagi untuk melakukan serangan terbaikmu kepada mereka.” ucap Dewa kepada Riamo yang berada di bagian belakangnya.
”Apa kau yakin kita akan melakukan teknik itu sekarang, tidakkah itu terlalu cepat?” tanya Riamo kepada dewa yang ia rasa sekarang terlalu sangat gegabah jika mereka sudah mengeluarkan teknik terbaik mereka.
”Tentu saja, kita perlu membuktikan kepada mereka bagaimana kemampuan kita yang sebenarnya.” tatap Dewa kepada seluruh anggota timnya.
Dewa merasa cara bermain Adit dan yang lainnya terlihat sangat amatir. permainan mereka tidak memiliki teknik sama sekali dan hanya berposisi pada pertahanan saja. Dewa sangat ingin mengakhiri permainan mereka secepat mungkin sehingga dengan begitu mereka mampu membuktikan kekuatan mereka yang lebih unggul dibandingkan dengan adil dan yang lainnya.
”Bagaimana, apa yang harus kita lakukan? ”tanya harga menghadap ke arah Adith.
”Untuk saat ini kita tidak perlu melakukan apa-apa, kita hanya cukup mengamati cara bermain mereka sebelum akhirnya kita akan mengambil suatu strategi yang baik dalam menghadapi mereka semua. ”ucap Adit yang diarahkan kepada seluruh teman-temannya.
Langkah terbaik saat menghadapi musuh yang baru pertama kali bertemu adalah dengan mempelajari terlebih dahulu cara bermain mereka serta tekhnik dan emosi mereka.
Arka yang memegang bola segera mendrible bola dengan santai sembari memperhatikan situasi yang ada pada kelompok lawan. Lalu dengan cepat berlari mengarah ke sebelah kanan Riamo yang dengan cepat dicegat olehnya. Tepat saat mata Arka sedang bertatapan dengan Riamo, Dewa dengan lihainya mencuri bola yang sedang di pegang Arka saat melemparnya kebawah sewaktu mendribble bola.
Dewa yang menghadap kearah Adit dan menatapnya dengan sangat tajam mulai mendrible bola dengan secara perlahan-lahan, mereka segera bergerak cepat dengan Riamo yang berada di sampingnya.
Arka berusaha cukup cepat untuk mencegat Dewa, namun teknik Dewa saat melewati Arka dan berputar melewati Adith segera langsung mengoper bola ke arah Riamo terlihat cukup profesional. Riamo menerima operan bola dari dewa yang sangat cepat bahkan sampai mengeluarkan bunyi yang sangat keras saat menyentuh tangan Riamo.
”Waww.. tak ku sangka mereka bermain dengan sangat hebat juga rupanya. Sepertinya mereka tidak hanya membual saja.” Karin mengomentari gaya bermain Dewa yang sudah terlihat seperti atlet basket pemain nasional.
”Caranya mendribble bola seolah bola itu bersatu dengan tangannya. Apa tangan mereka memiliki lem? Bola basket itu kan besar dan bahkan akan terasa licin, lalu bagaimana cara dia memegang bola tersebut dengan baik?” ucap Yumna yang kagum dengan permainan dari lawan Arka dan yang lainnya.
”Sepertinya kau cukup tau banyak soal basket!” tuduh Alisya sambil tersenyum menggoda Yumna.
”Aku sering melihat dan mendengar Arka membahas berbagai hal tentang basket, sampai aku bisa menghafal semua hal yang sudah ia beritahukan kepadaku.” Yumna menjawab sambil terfokus melihat pertandingan mereka.