Chapter 267 - Ciuman (1/2)
”Hei… apa yang sedang kamu lamunkan?” Karin yang sedari tadi memperhatikan Alisya yang sedang melamun langsung menyikutnya kuat.
”Ciuman….” Ucap Alisya masih dengan setengah sadar.
”HAH????” mereka serempak menoleh ke arah Alisya yang langsung kaget mendengar suara teriakan teman-temannya.
”Kau masih mengingat kejadian dirumah sakit tempo hari?” teriak Aurelia dengan suara yang cukup keras sehingga Alisya langsung menutup mulutnya dengan cepat.
”Eh??? Rumah Sakit? Kenapa dengan Rumah Sakit?” tanya Rinto bingung tak tahu apa-apa mengenai apa yang baru saja dikatakan oleh Aurelia.
”Bukan apa-apa! Iya kan??? Hahahahaha” Alisya menatap tajam kearah Aurelia yang membuat Aurelia merinding karena tatapannya.
”Apa hidupku hampir berakhir tadi?” bisik Aurelia kepada Karin yang sudah ceikikian Bersama Adora dan yang lainnya.
”Bersyukurlah dia masih ingat untuk mengampuni nyawamu.” Ucap Adora sembari memegang Pundak Aurelia untuk memberinya dukungan.
”Benar yang orang bilang, Jatuh cinta bisa membuat orang jadi bodoh dan terlihat konyol bahkan keluar dari jati diri mereka yang sebenarnya.” Terang Karin sembari melewati Aurelia yang terdiam membeku dengan tubuh yang bergetar karena tatapan membunuh dari Alisya.
Mereka terus berjalan menuju ke gerbang sekolah sampai menemukan Riyan dan Zein yang sedang berjalan beriringan menuju gerbang sekolah mereka karena hari itu mereka tidak membawa mobil masing-masing dan jemputan mereka sudah menunggu didepan sana mengantri dengan rapi sesuai urutan elite untuk menunggu tuan mereka.
”Kenapa kalian cuma berdua saja? Dimana Adith?” Alisya memalingkan wajahnya ke kiri dan ke kanan untuk mencari Adith di sekitar mereka.
”Dia sudah pulang terlebih dahulu karena ada yang harus dia kerjakan!” jawab Zein cepat dengan mata yang dulu pernah tertuju tajam kepada Alisya, kini sudah berpindah ke mata Adora.
”Benarkah? Ummmm… Apa hari ini dia pernah keluar dari kelas atau ke perpustakaan misalnya?” pancing Alisya untuk memastikan mengenai mimpinya tersebut.
”Ummm… se ingatku dia hanya keluar saat mendapat telpon dari paman Dimas, selanjutnya dia masuk ke dalam kelas untuk mengambil tas dan jacketnya kemudian meminta izin kepada pak Irhan.” Riyan menggaruk kepalanya saat mengingat hal tersebut meski ia tahu bahwa maksud Alisya adalah Adith mungkin saja menemuinya di Perpustakaan Gedung siswa biasa, bukan di kompleks.
”Ada apa?” tanya Zein mengira ada sesuatu yang cukup penting yang sedang ingin dikatakan oleh Alisya kepada Adith.
”Ah… Tidak, aku hanya bertanya saja!” ucap Alisya cepat sembari menggeleng kuat.
”Hemmmm… Sepertinya ada yang kangen nih? Baru tak melihat sehari saja kau sudah se kangen itu?” Karin mulai menggoda Alisya yang wajahnya langsung memerah karena ucapan Karin.
”Ahhh,,, I.. itu karena tumben saja. Biasanya kan mereka suka berjalan bertiga. Makanya aku tanyakan.” Alisya langsung berjalan pergi menghindari tatapan licik teman-temannya.
Mereka semua hanya tersenyum senym melihat tingkah gugup Alisya yang berjalan pergi menjauhi mereka.
”Oh iya, aku lupa memberitahukan kalian sesuatu!” seru Karin cepat saat mereka sudah berada di pintu gerbang dengan Feby serta yang lainnya sudah tidak berada disana karena beberapa dari mereka membawa kendaraan sendiri.