Chapter 293 - Pemakaman Ubay (1/2)

Seperti yang sudah di sarankan oleh Karan, Adith tak langsung menemui Alisya dan hanya kembali kerumahnya. Fikirannya kalut dan kacau balau, ia mengingat semua yang sudah dikatakan oleh Karan kepadanya.

”Adith? kau baik-baik saja kan? Bagaimana bisa teman kalian terbunuh disana?” ibu Adith segera menerjang Adith begitu mendengar anaknya memberi salam saat masuk kedalam rumah.

”Adith baik-baik saja ma, bagaimana mama bisa tau kalau teman Adith ada yang terbunuh?” Adith tak menyangka kalau ibunya akan sangat cepat mendapatkan informasi mengenai kematian Ubay yang karena pembunuhan.

”Mama kan tergabung dalam grub diskusi orang tua. Dan ibu Erik yang memberikan kami informasi ini. Bagaimana dengan Alisya? bukankah seharusnya kau masih bersama kelompok mu?” ibu Adith heran saat anaknya sudah pulang kerumah sedang rombongannya masih dalam perjalanan kembali ke rumah orang tua Ubay.

”Alisya dan aku baik-baik saja ma... Adith hanya ingin pulang lebih awal karena bus tidak cukup mengangkut kami semua.” Adith memegang bahu ibunya dengan erat dan membawanya menuju ke sofa.

Adith mendudukkan ibunya dengan lembut yang kemudian ia baring ke paha ibunya dan memeluknya dengan sangat erat. Ibunya mendesah pelan memahami kegusaran Adith yang terlihat dari kerutan keningnya.

”Ada apa? kamu ada masalah lain?” ibu Adith tak yakin kalau kegusaran Adith adalah karena kematian Ubay meski ia juga merasakan kepedihan karenanya.

Adith hanya menggeleng pelan karena tak ingin memberikan beban pemikiran kepada ibunya.

”Nggak ma, Adith hanya ingin berada di pelukan mama saja saat ini.” Adith berusaha berbohong dengan membuat suaranya seolah terdengar sedang ingin di manja oleh ibunya.

”Plakkk... kau pikir aku siapa?” tampar ibunya ke kening Adith yang terlihat masih mengkerut.

Adith hanya tersenyum simpul dengan sikap ibunya yang begitu peka terhadap dirinya.

”Kalian pasti sudah berjuang dengan sangat keras malam ini, terutama Alisya.” ibu Adith memandang Adith dengan tatapan serius dan sendu.

Adith langsung terbangun dari pangkuan ibunya begitu mendengar perkataan ibunya yang begitu tepat sasaran.

”Aku tahu betul bagaimana situasinya setelah melihat reaksi mu yang seperti ini, kau pasti sudah melihat Alisya yang sebenarnya bukan?” tebak ibu Adith yang dengan seketika membuat Adith melongo tak percaya.

”Seberapa banyak yang mama ketahui mengenai Alisya?” tanya Adith tak percaya akan apa yang sudah dikatakan oleh ibunya. Ia tak menyangka kalau ibunya bisa mengetahui banyak hal mengenai Alisya melebihi dirinya.

”Sejak awal setelah mengetahui bagaimana kehidupan Alisya, mama selalu menjadi orang pertama yang selalu berkonsultasi dengan dokter pribadi Alisya. pak Hadi memberiku banyak informasi mengenai Alisya yang sudah semakin mengalami banyak perubahan pada struktur tubuhnya.” jelas ibu Adith menggenggam tangan Adith erat.

”Kenapa mama tak memberitahuku hal yang sepenting ini?” Adith menunduk dalam penuh kekecewaan kepada ibunya namun ia tidak bisa menunjukkan kepada ibunya.

”Pak Hadi yang melarang ku. Ia bilang bahwa kau harus menghadapi nya secara langsung untuk bisa menjadi lebih kuat. Hatimu harus terbiasa melihat semua yang terjadi baik pada Alisya maupun pada setiap orang yang akan memburu Alisya nantinya.” ibu Adith sebenarnya sangat takut sehingga suaranya bergetar ketika menjelaskan kepada Adith.

”Tapi, jika aku tau dari awal akan semua ini. Maka seharusnya aku tak menunjukkan wajah terkejut ku kepada Alisya. Aku sudah melakukan kesalahan besar padanya ma...” terang Adith dengan suaranya yang cukup serak.

”Karena kalian berdua harus bisa menghadapi semua ini dengan saling belajar dari pengalaman, selain itu pak Hadi ingin agar kau maupun Alisya bisa lebih tenang dalam menghadapi situasi yang lebih parah dari ini lagi nantinya.” ibu Adith tak begitu tahu akan apa yang sudah mereka alami, tapi ia bisa menafsirkan akan apa yang sudah mereka alami kali ini.

”Tapi Alisya malah menjauhiku saat ini. Dia melarikan diri begitu melihat ekspresi ku yang terkejut saat ia berhasil membunuh Rafaela dengan memisahkan kepalanya dari tubuhnya.” jelas Adith menceritakan apa yang sudah mereka alami semalam.