Chapter 340 - Hari Pernikahan (1/2)
”Oke kita mulai Ijab Kabulnya yah…” ucap pak penghulu memberikan aba-abanya yang dengan cepat membuat semua orang jadi terdiam.
Mereka semua dengan khusyu ingin mendengarkan dan melihat seluruh prosesi pernikahan Adith yang tidak memakai Adat apapun namun cukup dengan cara yang islami dan tampak sederhana namun megah serta dihadiri oleh sanak kerbat serta orang-orang terdekat keduanya.
”Pertama kita coba latihan dulu sekali. Ayo pak silahkan.” Ucap pak penghulu mengarahkan Alisya untuk berlatih terlebih dahulu.
Entah karena apa, bukan hanya Adith dan Alisya saja yang gugup namun Ayah Alisya juga tampak sangat gugup. Tangannya bahkan terasa sangat basah karena keringatan serta pupil matanya yang juga tak berhenti bergetar.
”Bapak ngapain ikut gemetar juga?” bisik Alisya mendekatkan diri kepada ayahnya.
”Wah.. si Bapak malah ikutan grogi.” Suara pak penghulu yang sedang berbicara menggunakan mik membuat hal itu jadi terlihat jelas sehingga semuanya kembali tertawa dengan riuh.
Setelah cukup tenang, mereka melakukan satu kali latihan yang kemudian dilanjutkan dengan prosesi Ijab Kabul yang sesungguhnya. Baik Ayah Alisya maupun Adith sudah terlihat menarik nafas dalam secara bersamaan untuk siap melakukan prosesi tersebut.
Alisya yang berusaha untuk tetap tenang pun merasakan kegugupan yang cukup mendalam. Jantungnya terus saja berdetak dengan sangat cepat bahkan ia merasa seolah tubuhnya ikut berdetak karenanya.
”Bismillah… Saya nikah kan kamu dengan anak saya yang bernama Ralisya Quenby Lesham Binti Arrayan Parviz Lesham, dengan seorang pria bernama Radithya Azura Narendra Bin Rei Fansyah Narendra, dengan Mas Kawin Cincin seberat 5 Gram dan seperangkat alat sholat dibayar Tuuunai!!!” suara Ayah Alisya terdengar tegas dan lantang dalam satu kalimat.
”Saya terima nikahnya Ralisya Quenby Lesham Binti Arrayan Parviz Lesham, dengan Mas Kawin Cincin seberat 5 Gram dan seperangkat alat sholat dibayar Tunai!!!” tegas Adith mantap dalam satu helaan nafas dan suaranya tak bergetar sama sekali.
”Bagaimana saksi?” tanya pak penghulu kepada para Saksi yang berada di kedua sisi mempelai.
Para saksi sedang terlihat berdiskusi dengan saling memandang satu sama lain sedang seluruh orang yang menyaksikan seolah sedang menahan nafas mendengar apa yang di katakana oleh para saksi.
”SAH!!!” Teriak mereka kompak yang si sambut oleh sahut-sahutan oleh seluruh orang yang melihat prosesi tersebut.
”Selamat yah… Sudah Sah loh!” teriak Zein dan yang lainnya sembari bertepuk tangan heboh.
”Adith hebat… Hanya sekali ucap.” Tambah Adora dengan penuh rasa kagum.
”Ciyeee,, yang sudah Sah!” goda Karin melihat keduanya yang Nampak menunduk malu.
”Kenapa malah aku yang deg-dengan sih..” teriak Emi yang terlihat meleleh melihat Adith dan Alisya yang akhirnya sah juga.
”Selamat menempuh hidup baru!” ucap Riyan dengan penuh semangat.
”Akhirnya kita Bersatu juga.” Batin Adith memandang Alisya.
”Kali ini detakkan jantung yang kurasakan bukan karena gugup, melainkan karena rasa Bahagia yang sedang meletup hebat dan terasa sangat nyaman.” Batin Alisya yang hanya melirik sekilah kepada Adith karena malu.
”Debaran ini adalah perasaan lega karena sekarang kami akhirnya Resmi menjadi sepasang Suami Istri.” Lanjut Adith lagi yang kini memandang Ayah Alisya yang sudah berlinangan air mata.
Melihat Ayah Alisya yang menangis tanpa sadar, semua orang yang berada di ruangan dan menyaksikan prosesi tersebut ikut berlinangan air mata tak terkecuali Ayah Adith dan Kakek Alisya yang sudah tentu diketahui memiliki wibawa yang sangat tinggi.
”Untuk hari ini, keluarkan saja semua.” Ucap Ibu Adith yang melihat suaminya sedang memalingkan wajah berusaha menahan tangisnya.
”Kau tak perlu berusaha menahannya, ini adalah tangis haru dan Bahagia yang tak perlu disembunyikan.” Nenek Alisya memeluk erat suaminya yang terlihat berusaha menggertakkan giginya.
”Ahh.. aku tak bisa menahan air mataku. Rasanya penuh syukur dan Bahagia sekali.” Seru Feby mengusap kedua matanya yang banjir akan air mata.