Chapter 484 - Gondola (1/2)

Beni yang terus mengejar Emi yang menarik Feby dan tak ingin pulang dengannya membuat Beni merasa tidak nyaman untuk melepas Emi dalam keadaan seperti itu.

”Lakukan sesuatu!” tatap Beni kepada Feby yang terus ikut terseret oleh Emi.

”Kau yang harusnya lakukan sesuatu. Kenapa malah menyuruh aku sih?” Feby balik menatap tajam kepada Beni dengan kesal.

Keduanya terus bertengkar satu sama lain dengan menggunakan gerakan bibir. Feby tau betul kalau Emi saat ini benar-benar marah, sehingga ia tidak tahu harus berkata apa untuk menenangkannya.

”Ayolah, bantu aku mengatakan sesuatu. Jangan biarkan dia pulang!” Beni mengangkat keduanya tangannya memohon kepada Feby untuk membantunya. Feby menarik nafas putus asa dan memikirkan cara yang tepat untuk bisa menenangkan Emi.

”Em… bukankah harusnya kamu membicarakan hal ini dengan Beni terlebih dahulu?” tanya Feby dengan lembut yang langsung membuat Emi sejenak berhenti dan terdiam.

”Emi, maafkan aku. Tapi apa yang terjadi tidak seperti yang kau lihat tadi, semua ini terjadi karena…” Beni sejenak terhenti karena bagaimanapun juga dia tidak bisa mencari kesalahan orang lain hanya untuk menyelamatkan dirinya sendiri.

”Kenapa? Kau tidak bisa menjelaskannya bukan? Apakah segitu Sukanya kalian pada wanita itu sampai kalian melompat lompat dengan begitu heboh sampai kau lupa kalau kau juga seorang artis papan atas?” Emi sebenarnya marah karena selain ia merasa cemburu, namun karena ia kesal dengan sikap ceroboh Beni yang bisa saja membuatnya tersorot oleh media dengan begitu mudahnya.

Emi juga sengaja menyeret Feby bersamanya karena tak ingin ada yang melihat Beni sedang mengejar dirinya. Ia membawa Feby sebagai kamuflase agar media tidak menyadari apa yang sedang terjadi dan Feby juga tahu akan hal tersebut.

”Bukan begitu, tapi.. arghhh.. aku tak bisa menemukan kalimat yang tepat untuk menjelaskannya padamu.” Beni merasa kesal karena takt ahu harus bagaimana.

”Sudahlah, sebaiknya kamu pulang saja sekarang. Besok kau masih memiliki banyak jadwal yang padat bukan?” Emi yang kembali melangkah pergi membuat Beni panik dan langsung menggendong Emi di bahunya.

”Apa yang kau lakukan? Turunkan aku!” Emi meronta kaget karena apa yang dilakukan oleh Beni segera mendapat banyak perhatian orang. Beni menggendong Emi dengan terus berusaha menutupi wajahnya agar tak di ketahui oleh orang banya.

”Hei, kau mau membawanya kemana?” karena khawatir, Feby dengan segera mengejar Beni dan mengekorinya dari belakang.

Beni langsung mendudukkan Emi ke dalam Gondola dan menyuruh penjaganya untuk segera menguncinya dan memutarnya. Menyadari siapa yang sedang berbicara tersebut, dengan cepat dia menuruti kata-kata Beni.

”Tolong bayarkan tiketnya.” Tunjuk Beni dengan Bahasa isyarat kepada Feby. Feby hanya bisa menepok jidatnya dengan keras melihat aksi nekat yang dilakukan oleh Beni.

Emi yang ingin turun tapi begitu gondola itu semakin tinggi membuatnya kembali duduk dengan pasrah. Beni berhasil membuat kesempatan untuk bisa mendapatkan waktu untuk berbicara kepada Emi dengan lebih nyaman.

”Ya sudahlah, yang lainnya mungkin sudah pulang juga. Sebaiknya aku berkeliling satu kali dulu sebelum pulang. Biar Beni saja yang mengantar Emi pulang, dengan begitu mereka bisa punya waktu lebih banyak untuk berdua.” Feby yang masih ingin menikmati keramaian itu dengan segera berkeliing ke beberapa stand yang menarik setelah sebelumnya membayarkan tiket gondola Beni dan Emi.